PeretasSitok SrengengeSeumpama pagi, kita pun lekas pergiSebagai sore, kita segera sampaiDari dan ke pangkuan kelamDi mana kita jadi penelusur gua gelitaMeraba, menaswir gema cintaTerpisah dari yang selain desahRaga melenggang bagai ganggangSukmaku menggapai sukmamu, bersitaut serupa kiambangLarut dalam kelucak ombak pasangKulumur landai lampingmu sampai pasir menyerpihKudentur-dentur ceruk curammu hingga berbuihHingga kau-aku terhempas, terlepas, di altar tarikhPeramlah separuh perih, sampai kaulihat rakitdinakhodai cahaya fajar pertama dari kaki langitSelebihnya biar kusemat di jantungku, betapapun sakitSebab, selagi selat susut semata kaki,kita akan mulai saling mencariDipandu denyut nadiKuharap kita akan bersua di sebuah bukit heningyang menyimpan mata air bening, di mana letih terbaringseluruh luka pulih, seiring kita tandai segala yang asingDan di tanah yang tabah itu, hidup akan tumbuhKau bagian dariku, aku bagian dirimu, dua jiwa satu tubuhSenantiasa saling butuh. Tanpa yang lain kita tak penuh, tak utuh
Showing posts with label Sitok Srengenge. Show all posts
Showing posts with label Sitok Srengenge. Show all posts
Wednesday, January 23, 2013
Puisi Peretas "Dua Jiwa Satu Tubuh" | Sitok Srengenge
0 komentar Wednesday, January 23, 2013 Diposting oleh kumpulankaryapuisiMonday, January 21, 2013
Puisi Musim "Cinta Ibarat Bunga Merekah Indah" | Sitok Srengenge
0 komentar Monday, January 21, 2013 Diposting oleh kumpulankaryapuisiMusimSitok SrengengeTak pernah henti cinta mencintaisampai usai tak letih silih mengisiDulusebelum menyatuaku bergelar laparkau bernama dahagaSama-sama baru tiba dari hampaLaludibimbing waktuaku melahapmukau meregukkuSejak itu kita bukan lagi yang sediakalaBetapa perkasa cintaIa jelmakan kita jadi manusiaKuhasratkan kau rebah di tanahsebab aku petani yang tabahsetia membajak dan mencangkulimumemupuk dan mengairimuHingga kau buntingmelahirkan nasi ribuan piringKadangkala aku pekerja pabrik gulamerawat ladang tebuatau menjaga gerak mesin gilingmuAgar tak cuma akutapi semua yang dekat kitatetap bisa menikmati manismuDalam dambaku kau seindah musim basahselalu murung dan menangissetiap kausaksikan kawanan burungmeninggalkan hutan tropis yang hampir habisKubuka sawah dan kebunmenadah gairah yang rimbunsebelum kau berpaling sebagai musim keringmembuatku gering rindu peluhmuAku bergantung padamuTak perlu kuminta kau jadi yang kumausudah itu layu lalu luruh demi buahPetani dan musimtak terpisah
Thursday, January 10, 2013
Puisi Peladang | Sitok Srengenge
0 komentar Thursday, January 10, 2013 Diposting oleh kumpulankaryapuisiPeladangSitok SrengengeMinggu, menunggu kuncup cintaku menjigrah jinggaBagai bunga angsoka di halaman putih sang kekasihSenin, senantiasa tanganku terulur serupa pohon nyiurMenjinjing tempayan berisi sari kasihku sesuci susuSelasa, selalu lamunanku menjulur seperti sulur ubiTekun mengukir kesiur kenang tentangmu di jalur nadiRabu, rabuku bergetar sesamar cahaya di marwah mawarMenggambar gairah meruap harap dengan cinta meronaKamis, kambojalah aku putih lembut semburat unguHirup harumku sebagai penangkal kalut kalbumuJumat, jumpai aku si pucuk buluh membelai bulan subuhGugup menggurat gurit rindu dendam sampai sembilu lebamSabtu, sabar sekalem kalammu setabah benih berubah buahSadar hidup hanya jeda sebelum jiwaku jumbuh kaurengkuhhttp://oase.kompas.com/read/2012/08/05/13030471/Puisi-puisi.Sitok.Srengenge
Sunday, December 2, 2012
Puisi Kereta (Sendiri di Stasiun Tugu) | Sitok Srengenge
0 komentar Sunday, December 02, 2012 Diposting oleh kumpulankaryapuisi
sumber gbr : panoramio.com
KeretaSitok Srengenge1entah siapa yang ia tungguOrang-orang datang dan lalu,ia cuma termanguSepasang orang muda berpelukan(sebelum pisah) seolah memeluk harapanIa mendesis,serasa mengecap dusta yang manisKapankah benih kenangan pertama kali tumbuh,kenapa ingatan begitu rapuh?Cinta mungkin sempurna,tapi asmara sering meranaIa tatap rel menjauh dan lenyap di dalam gelap: di mana ujung perjalanan, kapan akhir penantian?Lengking peluit, roda + roda besi berderit,tepat ketika jauh di hulu hatinya terasa sisa sakit2Andai akulah gerbong kosong itu,akan kubawa kau dalam seluruh perjalanankuDi antara orang berlalang-lalu,ada masinis dan para portirDi antara kenanganku denganmu,ada yang berpangkal manis berujung getirCahaya biru berkelebat dalam gelap,kunang-kunang di gerumbul malamSerupa harapanku padamu yang lindap,tinggal kenang timbul-tenggelamDua garis rel itu, seperti kau dan aku,hanya bersama tapi tak bertemuBagai balok-balok bantalan tangan kita bertautan,terlalu berat menahan bebanDi persimpangan kau akan bertemu garis lain,begitu pula akuKau akan jadi kemarin,kukenang sebagai pengantar esokkuMungkin kita hanya penumpang,duduk berdampingan tapi tak berbincang,dalam gerbong yang beringsutke perhentian berikutMungkin kau akan tertidur dan bermimpi tentang bukan aku,sedang aku terus melantur mencari mata air rinduTidak, aku tahu, tak ada kereta menjelang mata airMungkin kau petualang yang (semoga tak) menganggapku tempat parkirKita berjalan dalam kereta berjalanKereta melaju dalam waktu melajuKau-aku tak saling tujuKau-aku selisipan dalam rinduJadilah masinis bagi kereta waktumu,menembus padang lembah gulitaTak perlu tangis jika kita sua suatu waktu,sebab segalanya sudah bedaAku tak tahu kapan keretaku akan letih,tapi aku tahu dalam buku harianku kau tak lebih dari sebaris kalimat sedihhttp://oase.kompas.com/read/2012/08/05/13030471/Puisi-puisi.Sitok.Srengenge
Subscribe to:
Posts (Atom)

