Showing posts with label Tema Bulan. Show all posts
Showing posts with label Tema Bulan. Show all posts

Monday, September 23, 2013

Puisi Wanita dan Bulan | Sonny H. Sayangbati

0 komentar

Wanita dan Bulan
Sonny H. Sayangbati

Jika hari sudah mulai meninggi
matahari bersinar dengan teriknya
maka engkau menyebut dia
seorang wanita
Dalam cahaya dia akan tampak
dalam semua perwujudannya
Jika hari sudah mulai meredup
cahaya akan sembunyi dalam tirai langit
engkau pun akan tahu
dia pun seorang wanita

Bulan akan nampak
karena dia selalu tak bisa menghindar
dari datangnya bulan dan
setiap awal bulan dia akan menagih
jatahnya


07 Mei 2013


Thursday, January 17, 2013

Puisi Sebelum Melukis Bulan | Slem Reog

0 komentar

sebelum melukis bulan
Slem Reog

Hanya ada aku dan kamu yang mencoba melukis bayang-banyang yang tumbug di dasar danau mengajak semuanya merampungkan lagi permainan petak umpet atau kejar-kejaran di belakang langgar yang berhalaman panjang. Kupanggili kau kacong untuk kunjungi mimpi yang pernah ku umpet di lapangan kerapan sapi sebelum kau benar-benar faham melukis bulan

sekarang kau tumbuh besar sebesar mawar yang ku siram di halaman, warnanya memerah menawan wanginyapun semerbak serupa bau misik hadiah pak haji ketika pulang dari tanah suci. Pelan-pelan kauberanjak dari ranjang berkaki empat membuaka tirai yang lusung sebab angin mempolesinya

Bandung, 07-01-2-13

*penulisi lahir di desa lesong daya batumarmar pamekasan madura, sekarang tinggal di bandung STSI sekolah tinggi seni indonesia di jurusan seni teater.

Tuesday, June 19, 2012

Puisi Tentang Bulanku | Linda Sarmili

0 komentar


Tentang Bulanku
Linda Sarmili

bulan pun tertinggal di belakang
ketika anak anakku
masih terkantuk
mendekap kemanguan

bersama hari-hariku yang celaka
menjadikan setiap tangisnya
bagi hari-hariku
adalah keasingan
yang sempurna
keasingan yang mengiringi
kembali lusuhku
bertahta di atas
bakal lahirnya
sebuah perjanjian
untuk anak-anakku

hai... anakjika hari ini
kamu bertanya
tentang ibumu
"Bukalah nak"
lembaran sajak basiku
pada halaman 13
di sana tertulis
"bulanku, istriku dan anakku
adalah bayang-bayang
kelabu dalam sajakku".

Jakarta. Maret 2011

Monday, March 26, 2012

Puisi Rembulanpun Tak Lagi Tersenyum Padaku | Fauziah Humaira

0 komentar


Rembulanpun Tak Lagi Tersenyum Padaku
Puisi Fauziah Humaira

Semilir angin malam menusuk tulang
Aku mendongak ke langit
Gumpalan awan hitam kelam menyelimuti malam
Tak ada kerdipan bintang

Langit begitu gelap
Keindahan purnama tenggelam ditelan gumpalan awan
Gemerlap cahaya bintang dikulum malam
Keindahan malam tak kunjung datang

Aku mengharap pada angin
Ku bisikkan padanya untuk menggeserkan awan kelam itu
Bisikan lembut itu membuat angin luluh
Awan gelap telah pergi

Dengan mata berkaca
Aku kembali menatap langit
Mengharap rembulan bisa tersenyum
Dan bintang menyapa malam ini

Gelap …
Tak ada pertanda rembulan datang
Awan hitam tidak pernah ingkar
Dia kembali datang memenuhi janji pada Tuhannya
Egoku menikmati sinar rembulan

Rembulan mendengar bisik rumput liar
Yang sekian lama tidak menikmati hujan
Hanya bisikan kelembutan
Aku iri pada rembulan

Sangat taat dengan aturan Tuhan
Kelembutan sinar yang menaklukkan hati
Selalu memberi tak harap kembali
Aku tak pernah mendengar bulan menuntut bumi

Memberikan keindahan seperti sinarnya rembulan
Aku mengharap tuhan menepati janji
Tapi aku tak pernah dekat dan menghampiriNya

18 September 2011

sumber : fiksi.kompasiana.com

Monday, April 18, 2011

Puisi Bulan Sabit | Mega Vristian

0 komentar

BULAN SABIT
Mega Vristian

bulan sabit turun dari angkasa
ke atap-atap musim bunga
seperti kau, kekasih
yang selalu datang
menjemput dan menunggu
menyertaiku di detik-detik peristiwa
pahit dan manis tanpa meminta


ketulusan ini jugalah
tanah hitam subur
di mana kesetiaan bertunas
cinta mengembang
mengalahkan musim


bulan sabit turun dari angkasa
ke atap-atap musim bunga
di biru langit hidupku
kasihmu purnama malam
fajar penyulut siang
tak kuucapkan memang
sadar kepekaan cinta
bermata elang

(Hong Kong, April 2004)

Friday, April 15, 2011

Puisi Bulan Cemara | Musthofa Aldo

0 komentar

Bulan Cemara
Puisi Musthofa Aldo

Ada gemerisik nilai di pucuk-pucuk cemara
Ketika semak-semak yang basah mendesahkan bulan
Dan kangkah kita yang tak kekal
Mencari bongkahan-bongkahan mimpi di balik bantal

Bulan
Cemara

Di sebuah telaga
Tempat seekor burung mencuci sayapnya yang luka
Kutemukan darah mimpi anak cucuku yang merah
Telah ditanam di ladang doa dan airmata.

Bulan
Cemara

Kelak di ladang inilah kunantikan
Anak cucuku membawa beras bergantang-gantang.

2009

Monday, April 4, 2011

Puisi Bulan Bulat Di Ranjang

0 komentar

BULAN BULAT DI RANJANG
Dharmadi

bulan menyusup
ke kamar lewat lubang angin
jatuh di tengah ranjang
sprei berbunga-bunga
yang tidur menggeliat pelan

sorot biru mata kucing
di atas lemari pakaian
menghunjam memeta wilayah
terkaman

1994

sumber : kompas.com

Sunday, January 23, 2011

Puisi Malam Bulan | Wing Kardjo

0 komentar

Malam Bulan
Wing Kardjo

Ketika bangun sudah bertahun-tahun tahu
bahwa kembara tak kan pernah jauh
berkelana di bawah bulan dua-dua
makin larut malam, makin

dingin untuk cinta, di urat-urat tubuh,
ditulang sumsum, di jari-jari, di tiap
kecup dan cium. Telah retak-retak
bulan, tahun jernih tak kan pulih.

Jiwa merasuk dalam rimba kelam, jasmani
tersesat di pintu hotel tua, memandang
perempuan bagai barang sewaan

Berlomba-lomba hawa penasaran menggapai lagi
angan-angan hilang dalam musim terlambat
matang, matahari terlalu cepat datang.


Sumber :
La chair, helas
Fragmen Malam Setumpuk Soneta (Pustaka Jaya)

Tag : Biografi Wing Kardjo, Surat atas Bulan, Sajak dalam Angin

Tuesday, August 31, 2010

Puisi Sembilan Putaran Rembulan | TS Pinang

0 komentar

Sembilan Putaran Rembulan

: Kidung Hayumatari Laras Kinanthi

sembilan putaran rembulan, o anak, menyempurnakan doa ibu-bapamu di setiap belai lembut dan titik airmata di sela tangis dan tawa dan kata-kata yang kau ciptakan dari dunia cahaya. kami masih tertatih mengeja huruf-hurufmu, sebab mata kami masih rabun tertabir kabut cuaca yang begitu gampang berubah. sebab itu ijinkanlah kami bercermin pada danau matamu yang kemilau sejuk dan dalam, dan menimba kebijaksanaan semesta yang dititipkan di dasar palungnya.

kami hanyalah kanak-kanak yang sembunyi di balik topeng usia. dan kepadamulah kami belajar memahami cinta, lebih dari sekedar yang terungkap oleh kata.

Dimuat di Suara Merdeka edisi Minggu, 01 Agustus 2010


TS Pinang
Sumber : www.titiknol.com




Saturday, August 14, 2010

KENING BULAN | Bersinar oleh cahaya iman

0 komentar

KENING BULAN
LK Ara

Kening bulan
Bagai perak berkilau
Bersinar oleh cahaya iman
Yang selalu melekat
Di sajadah

Kening bulan
Bagai perak berkilau
Mendekatlah
Kepada angin kembara
Yang nestapa
Yang mencari
Dan mengembara
Di belantara dunia

Mendekatlah
O kening bulan
Angin kembara
Ingin mengecupnya
Untuk melepas risaunya

Jakarta, 1986

Thursday, July 29, 2010

Masih Kulihat Rembulan Di Antara Sihir Lampu Kota

0 komentar

MASIH KULIHAT REMBULAN DI ANTARA SIHIR LAMPU KOTA

buat: kunthi hastorini


masih kulihat rembulan, cahayanya yang kuning keemasan, menggoda ingatanku, kepadamu. di antara lampu-lampu merkuri dan sorot kendaraan, aku takjub memandang langit, rembulan yang terang cahayanya. aku ingat engkau sayangku, dan ribuan kata-kata berloncatan ingin menjelma puisi.

puisi menjelma dari sepotong film animasi. dunia kanak-kanak yang menjadi kenangan. bayangkan kita memandang rembulan dan mengaung, sebagai serigala, yang menggetarkan langit dengan jerit yang teramat sedih. mungkin rindu. pada kekasih di langit yang jauh. di negeri yang jauh. di angan yang rapuh.

malam ini, sayangku, aku ingin kau tatap rembulan, terang cahayanya. seterang cinta kita yang menerang langit. demikian purnama.

Guntur 18 Deseember 2002, Malabar 19 Desember 2002

Kumpulan Sajak Berdua
Sajak-sajak Kunthi Hastorini - Nanang Suryadi


Wednesday, July 21, 2010

Puisi Rembulan Bersinar Terang

0 komentar

REMBULAN BERSINAR TERANG

Ku Lihat Wajah Mu
Di Percik Api
Tertakjub Dalam Kesunyian
Terpesona Memukau

Kini Lembayung Daun
Telah Musnah
Berdesah Tercampur
Tanah Liat
Seingat Kasih
Tiada Pernah Bertepi

Jeritan… Elok Wajah…
Bahkan Manis Senyum Mu
Selalu Tampak Jelas
Di Rinai Kegaluan Hidup

Sampai Kapan…
Tanpa Kepastian
Tanpa Ujung
Gelap Berlinang Bintang
Terus Terbesit

Sekian Hanya
Tercurah Padamu
Selesai Tertimpahkan
Untuk Ucapmu

Kaulah Rembulan
Bersinar Terang


PUISI BUKU 1 Karya 1104 dan NOEL
www.eryyuliana.co.cc

Thursday, July 1, 2010

Puisi Terang Bulan | Puisi Bertema Terang Bulan

0 komentar

Terang Bulan
Faisal Muhctar Al Khaufi


sesungguhnya lelaki itu berjalan antara pekatnya dupa, malam kian ramah
kerigatnya didinginkan angin lalu duduk menghitung sisa – sisa harapan
lantas bercumbu dengan nikotin karena tak ada lagi anggur yang bisa
menghangatkan dada

ajaib, ia pun berdiri “terima kasih tuhan” parau suaranya bergema antara
kesunyian dan lelapnya mimpi, di bawah lampu jalan yang setia, seperti
puisi yang ditukil dari kitab – kitab getir

aku menyaksikannya berasama salak anjing dan ringkik tawa parfum
kupu – kupu malam di sebrang jalan yang tak pernah mau jujur pada kenyataan


Karawang 2005

Thursday, June 24, 2010

TARIAN BULAN - Sulaiman Juned

0 komentar

TARIAN BULAN
Sulaiman Juned

langit menangis
renyah. Galau bulan
mandi di danau. Gerimis menari-nari
angin jalang memekatkan jiwa
rupa hilang dalam kelam waktu.

langit menangis
rinai .Risau bulan
mengeram di danau. Tarian sukma
memabukkan bintang selepas bertarung menempuh
badai, aku sempatkan menjenguk rumah
(Tuhan, senyap-sepi dalam keramaian)

-Malalo, 2009-

Friday, May 7, 2010

EPILOG BULAN | Puisi Tentang Bulan

0 komentar

EPILOG BULAN
Wina. SW1

bulan, matahari, angin di atas satu meja
percakapan tanpa kata:

lautku,
izinkan kuterima tanda cintamu

Kyoto-Japan, 5 Januari 2005

Friday, April 30, 2010

DI BAWAH BULAN | Puisi Rendra Tentang Perjumpaan

0 komentar

DI BAWAH BULAN
Ws Rendra

Ketika sebuah suara
memanggil namanya
ia hentikan langkahnya.
Rumpun pohonan remang-remang
mahkota cahaya di pucuk daunnya.
la tak lihat orangnya
tapi suara dikenalnya.
Ketika bulan menjenguknya
tampak pipinya
bagai kelopak angsoka
kerna darah naik
ke muka dan bulu kuduknya.
Terdengar cengkerik berpacaran
pucuk-pucuk cemara bergeseran.
Ketika sebuah suara
memanggil namanya
ia pun tahu
siapa menunggunya.
Cahaya lembut memabukkan
angin meniup tepi kainnya.
Ketika sebuah tangan kuat
meraba pundaknya
menyerahlah ia.

 

kumpulan karya Puisi | Copyright 2010 - 2016 Kumpulan Karya Puisi |