Biografi Zeffry J. AlkatiriZeffry J. Alkatiri lahir 30 Agustus 1960 di Jakarta. Berasal dari keluarga campuran Arab, Pakistan, dan Betawi. S1 jurusan Rusia FSUI (1987) dan S2 Kajian Wilayah Amerika UI. Profesi: Dosen di jurusan Rusia FSUI. Kumpulan puisinya: Pintu, Etalase, Batavia Centrum (1998). Adapun naskah Dari Batavia sampai Jakarta 1619-1999 (2001) meraih penghargaan pertama dalam Sayembara Kumpulan Puisi Terbaik tahun 1998-2000 yang diselenggarakan oleh PKJ-TIM.
Showing posts with label Zeffry J. Alkatiri. Show all posts
Showing posts with label Zeffry J. Alkatiri. Show all posts
Wednesday, May 28, 2014
Biografi Zeffry J. Alkatiri
0 komentar Wednesday, May 28, 2014 Diposting oleh kumpulankaryapuisiThursday, February 27, 2014
Puisi J. Rach dan Molenvliet 111 | Zeffry J. Alkatiri
0 komentar Thursday, February 27, 2014 Diposting oleh kumpulankaryapuisiJ. Rach dan Molenvliet 111Zeffry J. AlkatiriJ. Rach bersama budak payungBersiap melukis dari seberang Groote RivierMenghadap vila de KlerkPedagang Cina pulangTuan kompeni lalu lalangSais menunggu penumpangCandu dikirim ke gudangBuah-buahan dalam sampan menuju pelelanganPenjaga seperti robot mainan anakBerdiri kaku berhadapan di depanPntu gerbang model BuckinghamDua orang budak gelut.Anjing menggigit salah seorang pantat mereka.Istana Versailles berkacak pinggangJendelanya terkancingBarangkali mevrouw de Klerk sedang kelilingMenjajakan berita tentang koleksi permatabarunyaJ. Rach selesai mengarsir bayang-bayangYang semakin menghitammenelan kaum pribumiDan menenggelamkan merekaKe dalam dasar Groote Rivier.1999
Wednesday, February 26, 2014
Puisi Habib | Zeffry J. Alkatiri
0 komentar Wednesday, February 26, 2014 Diposting oleh kumpulankaryapuisiHabibZeffry J. Alkatiri1/Ahlan!Serak berat bebatukanSepanjang kampung ArabPagar tinggiPintu mengatup sepanjang siangPara wanita mengintipMemastikan tamuDari balik jeruji jendelaMata-mata bulatMenukik pada sasaranHidung-hidung seperti lengkung gunungMengisap semua debu kematianPara baksil Betawi rajin memarut tenggorokan mereka2/Ahlan!(Suara dari goa faring kering)Sang Habib sarunganDuduk di kursi rotanSecangkir gahwe jahe mengepulDi tengah meja marmer segi delapanTasbih kecil terus berotasi di jari kitiTangan kanan menyangga kepalanyayang berubanSegumpalan awan menggantung di atasnya:3/Sejak umur 21 tahunTerakhir melihat wadi gurunDari Aden menuju BetawiSetelah muntah di dek kapal InggrisMatanya menghijau royoTanah yang dipijak gembur-suburBaik ditanam hadis dan fikihYang mengakar di setiap sel otaknya4/Wan mau ke mane wan?Mau ke PekojanWan mau jual ape wan?Mau jual merjanSang habib membawa jadam menuju Kampung BandanMembawa kitab menuju maktabMenebarkan wewangian di rumahdan di madrasah.Sepuluh tahun sekali menanggalkan jubahMenuju Makah melempar jumrah…Selama 46 tahunBenih yang ditanamMenyebar di pelosok BetawiDan Habib rindu kepingin pulang!5/Sepanjang kampung ArabDehem dan sengau keledai bersautanMereka tak dapat sembunyi dari para penagihDan baksil Betawi terus mengejar,Menggerogoti tenggorokan serta paru-parumereka.Ba’da Ashar,Pintu-pintu mulai terbukaSebagian Arab di pangkalan istirahatDuduk di bale-baleSambil mengisap HogeAhlan… Bib!Gahwenya sudah dinginSaat beduk Maghrib,Gerakan jarinya berhentiTasbihnya jatuhTangannya terkulaiMenyentuh lantaiYang tak berpasir…1999
Monday, February 17, 2014
Puisi Reinier Si Juru Tulis dari Middelburg | Zeffry J. Alkatiri
0 komentar Monday, February 17, 2014 Diposting oleh kumpulankaryapuisiReinier Si Juru Tulis dari MiddelburgZeffry J. AlkatiriAku ikut!Teriak seorang pemuda yatimKepada kapten kapal yang akan bertolakDari Middelburg ke HindiaAkan kuhitung jarakLangkahBintangAkan kuhitung segala di mataDan akan kucatat semua di kepala.Baik, kata sang kaptenKini kau hitung berapa banyakPapan kayu kapal iniSambil mengepel lantai palkaReinier muda mulai menghitung dan menulis.Delapan ribu papan besarDan empat ribu lembar papan ukuran sedangLapornya, saat kapal merapatdi Nieuw AmsterdamLalu Reinier menghitung dan mencatatJarak langkahnya menuju tangga StadhuisTidak lebih dua belas tahunKatanya, dalam hati.Reinier menukar bedil dengan pena bulu.Ia menghitung dan mencatat:Ribuan orang Cina menggelepar di jalandan di sungaiPanjang pantai utara Pulau JawaRibuan pohon pala Pulau BandaReinier akhirnya menjadi kruidenierYang mencatat secara akurat:Luas tanah, ratusan budak, emas-perak,vila mewah, dan hutang piutang miliknyake dalam daghregister.Reinier lelah,Seakan semua telah ditulisRhematik keburu memilin pergelangannyaPadahal, ia belum sempat melaporkandan tak akan berani melaporkanKepada para HeerenBanyaknya tikus berpesta setiap hariDi Graanpakhuizen milik mereka.1999
Friday, February 14, 2014
Puisi Batavia Centrum | Zeffry J. Alkatiri
0 komentar Friday, February 14, 2014 Diposting oleh kumpulankaryapuisiBatavia CentrumZeffry J. Alkatiri1933:Beberapa encek dan encimTergopoh-gopoh memikulKeranjang keringat.Menyusuri lorong sempitPertokoan Pintoe Ketjil.1942:Jeppun datangBagero, katanyaKepada babah berbaju blacuYang memelas saat gudangnyaDikuras.Tahun ini tanpa Sin ChiaKue Pia hanya berisi ampas kelapa.1954:beberapa amoy dan akewmembuka grendel pintuDan menunggu recehanUntuk mengisi pundi-pundi abu mereka.1963:Sebagian enci dan engkohMengganjal pintu.Dan membiarkan asap hioMasuk ke rumahnyaDiam-diam mereka menghitungHari-hari sial dengan sipoanya.1979:Taipekong dapur iriMelihat dewa judiDiberi dupa wangi setiap hariMarga Tan dan Lie mengikat chiefenSebagian sampkai ke viharaSisanya bersimpuh di hadapan Bunda Maria.1992:Beberapa encim dan empetertatih bergandenganMenuju emperan untuk senam Tai-ChiSementara cucu merekaMasih tertidur pulas di Singapura.1998:Tirai-tirai besi koyak berderakBersamaan dengan ituBatu giok Dewi Kwam Im dan Macan Pa KuaJatuh beserakanBersama abu leluhur mereka.1998
Friday, February 7, 2014
Puisi Djakarta, 24 Maret 1945 | Zeffry J. Alkatiri
0 komentar Friday, February 07, 2014 Diposting oleh kumpulankaryapuisiDjakarta, 24 Maret 1945DARI DAN UNTUK: IBUKUZeffry J. Alkatiri08.32Kristen hitam bubaran misaJalannya merundukTangannya berat mendekap baibel ke dada08.37Tiga orang geisha kuyuBaru keluar dari markas HeihoMenenteng bungkusan hasil barter,pasti berisiBeras, ikan asin , dan gula.09.10Di PriokRombongan pemuda gundulBerbaris menghadap matahari dan benderaAsia timur rayaKakinya nyeker berdebu.Sayup-sayup kimigayo menuntun merekaMenuju gerbang neraka09.50Di gudang JepangAntrian jatah semakin panjangSisa makanan kaleng diperebutkanOleh para perempuan rombenganAnak-anak mereka jalan merangkakPerutnya buncit berisi anginSekitar 10.35 – 12.20Di sebuah kampungPada pelataran rindangPara bocah main hompimpahMereka bersiterudan mengejek anak yang kalah:nasi uduk ketan uraporang buduk ditendang arabnasi uduk ketan uraporang buduk sering kalapHari ini wak haji hanya mengimani tiga orang sebayaSeperti biasa, ancemon kuahTumpahDi perut.13.17Di sebuah pos jagaPara opsir kegerahanBaju dinasnya dibiarkan terbukaSebagian mengipasMatanya mengecil dan semakin setipis garis.14.10Kata seorang zuster,Sudah lama rumah sakit kehabisan perban.Percetakan Kolf tutupOlimo dan Lindeteves lebih dahuluApalagi Pasar Baru.Hari iniAda lagiOrang matiDi emperan tokoTubuhnya dipenuhi kutu tumaEntah nantiDibuang ke manaDikubur tanpa tandaSebab mereka adalahOrang-orang kalah tanpa namaSekitar 14.30 – 14.55Teng-teng-teng!Trem line 2 Kota-MentengLewat Deka ParkAngin mengejar di belakangDan berloncatan mengisi dua gerbong kosongTrem line 4 Kota-Tanah AbangLewat Gang KetapangBiasa membawa sekeranjang keharuman pasarDi warung kopiTukang catut, seperti tawonKeluar masuk sarang bergantianMengabarkan adanya kuncup bunga yang akan mekarKurang lebih 15.38Sebuah rumah mewah di jalan KajiTenang ganjilPenghuninya tidur siangKata orang bekas tempat interniranPara perempuan indoSekarang menjadi tempat piaraanpara komandan.Sekitar 16.35Rombongan pengantri pulangWajah mereka matang udangDi kali sudah banyak orang mandi.Di depan markas KempetaiHinomaru lemas terkulai.Di sebuah tembokPoster Banzai – Dai Nippon!Sobek lusuh tinggal separuh.17.10Sepintas,Di meja abuRumah nyonya AlanTerdapat foto baruTiga hari yang laluAnak perempuannya yang berkepangDinyatakan hilang17.58 – 18.35Sudah tiga tahun iniPetugas lampu gas menganggurDjakarta semakin buram kabur.Setelah maghrib,Sebaiknya di dalam rumah.Sebab banyak setan gentayanganNgaji.Kunang-kunang sambuk kelapaMenjadi penunjuk jejak malamSebentar lagi ada kusyu-keihoSiap-siap menggigit karetTruk tentara akan lewat19.20Bioskop Al-Hambra, Astoria, dan ThaliaGelap.Di beranda hotel des IndesLampu 10 wattMenggelantung sendirianPara geisha merah menor kembaliMasuk ke kandang babi.21.15Di rumah pak mantri ada rapat pemudaTinta cina mulai habisBesok mungkinAku tidak dapat lagi menulis1998
Monday, February 3, 2014
Puisi Malari: 1974 | Zeffry J. Alkatiri
0 komentar Monday, February 03, 2014 Diposting oleh kumpulankaryapuisiMalari: 1974SEBUAH EPISODE YANG DIGUBAH BERDASARKAN PENGALAMAN PENULIS SEWAKTU DUDUK DI KLAS II SMPN XXXV - GAMBIRZeffry J. AlkatiriBubaran sekolah aku mengikuti rombonganYang meneriakkan pekik kebebasan dalamkemarahan.Pada hari itu aku banggadapat mengempiskan tiga mobil perwira.Temanku lima bahkan ada yang sepuluh.Semua berlomba mengumpulkan pentilsebanyak mungkin.Para perwira terpaksa harus berjalanbersama massa.Pada hari itu kami banggadapat mengusir PanserYang petugasnya berendam di dalam.Kami bergembira dapat menghalau robot-robotberpakaian seragamYang mundur kehabisan strum.Pada hari itu, kami menjadi sombong,Karena berhasil menakuti para birokratdan aparat.Di Pejambon,Aku bergabung dengan serombongan ArekYang seakan sedang mementaskanpertunjukan reog.Mata mereka seperti terpejam.Hawa mulutnya menebar anggur kebencianGarang membawa balok dan pentunganSambil berteriak seperti orang kesurupan.Kami lalu berbelok ke arah Lapangan BantengMenuju Proyek Senen.Di sana,Para perempuan penjaga tokoberlari merundukSeperti kijang menghindar terkaman macan.Pemilik toko komat-kamit,Entah berdoa atau ngomel tak karuan.Para preman Batak ikut sibukmembersihkan perhiasan.Warga Sentiong, Tanah Tinggi, Kwitang,dan Alamo KwiniBerebut memusnahkanbarang produksi Jepang.Sehari itu,Mata kami menjadi ahli membedakanBarang yang mana yang harus dibuangProyek Senen terbakar,Jakarta lengangSemua orang berjalanBahkan di jalan orang dapat tiduran.Iring-iringan rombongan seperti ada perayaan.Ya, memang adaPerayaan menyambut kemenanganPerayaan menyambut kebencianPerayaan menyambut kemarahanDan perayaan menyambut kecemburuan.Atas nama sebagian orang yang tidak dapatmencicipi harta bantuan utang Jepang.Di Bunderan Air Mancur,Mahasiswa bersama massa mendesak asprimundurKarena dianggap sebagai antek TanakaYang menjerumuskan masyarakat Indonesiake jurang romusha.Brandwier kehabisan airUntuk memadamkan jiwa-jiwa yang terbakarYang melemparkan kekesalannya melaluibatu-batu,Melalui linggis, dan melalui api.Baru pada hari itu, aku merasakan menjadipemilik kota iniDan merasakan menjadi pemilik negeri ini.Setelah berjalan berputar-putar,kami berpencaran.Di pinggir jalan orang bertanya,Tentang asap yang menghitamdi belakang kami.Di depan jalan ke rumahkuPara tetangga bergerombolSeakan berhasil menjerat mangsa buruanMereka mengurungku dan menanyakanperistiwa hari itu.Ternyata, aku adalah orang pertama yangditunggunya.Nah…, aku menjadi pewarta.Mereka mengikutiku sampai ke serambirumahku.Dengan tenang kuurut semua menit kejadian.Pada hari itu Aku menjadi beritaAku menjadi penceritaAku menjadi koran dan radioAku adalah si pewartaYang bangga dapat mengalahkanOom Usman dan ‘Ceu EtyYang biasa menyajikan berita kepada para tetangga.Akulah beritaAkulah koran dan radioAkulah si penceritaAkulah si pewartaAkulah si pencatat pertamaYang membuat Oom Usman dan ‘Ceu Etymelongo dan keqiPada hari itu kesombongan merekakutaklukkan.Sampai tengah malamPara tetangga masih seperti lalatmengerubungi bangkaiku.Walaupun berjalan berkilo meter,aku tidak merasa lelah.Yang tersisa hanya perasaan bahagiaAtas kebebasan, kemenangan,dan keberanian.Selesai,Semua telah kuwartakan.Tapi ada sesuatu yang kulewatkanYang tak kuceritakan pada merekaDan tak akan pernah kuceritakan,Bahwa di dalam kantong celanakuTersimpan puluhan jam tanganDan beberapa emas batanganHasil jarahan…1999
Friday, January 31, 2014
Puisi Sair Kejadian Sewaktu Gunung Meletus (1983) | Zeffry J. Alkatiri
0 komentar Friday, January 31, 2014 Diposting oleh kumpulankaryapuisiSair Kejadian Sewaktu Gunung Meletus (1983)Zeffry J. AlkatiriUNTUK MENGINGAT:M. BAKIR DAN TAN TENG KIEDi Kota Inten banyak prahu pada kelebuLantaran ombak ngamuk seperti sapu.Air laut meluap sampai ke Kali BaruLantan gunung di Banten muntahin abu.Langit siang jadi gelap malemLantaran awan dikekepin asep item.Di Langgar orang berdoa minta slamatLantaran dikira bakal ada kiamat.Orang Belanda kagak bisa pelesir.Lantaran di jalan banyak batu pasir.Orang Cina kebakaran jenggotLantaran rumahnya jadi pada reyot.Arab sengke Krukut batal balik ke YamanLantaran laut di Jawa masih belon amanPohon dan genteng jadi pada kelabuLantaran banyak abu nempel di situ.Anak-anak berebut nanggok ikanLantaran air kali luber sampe ke jalan.Ibu-ibu pada menjerit takutLantaran tempayan di dapurpada saling nyikut.1999
Wednesday, January 29, 2014
Puisi Masuk Kota 1949 | Zeffry J. Alkatiri
0 komentar Wednesday, January 29, 2014 Diposting oleh kumpulankaryapuisiMasuk Kota 1949SEPERTI DIKISAHKAN OLEH SEORANG SAKSI MATAZeffry J. AlkatiriSudah kami persiapkanSejak kemarinKembang, bendera, dan selendangUntuk pemuda pejuangDari Kerawang dan TanggerangDalam konvoi mungkin masih adaJono, Idrus, Suratman, dan Bachtiar.Saudara, teman, dan tetangga kitaYang kini menjadi gondrong, dekil,dan lusuhPadahal dahulu mereka necis dan parlenteSemua sudah tergadai,saat nica mengetuk pintu.Sudah kami persiapkanSejak kemarinNyanyian dan lencanaYang tak sempat tersematkanDan tak sempat didengarkanPercuma,Sebab mereka keburu menghilang memburuHiburan, perempuan, harta rampasan,dan perumahan.Di kawasan Menteng, Matraman,dan Tanah Abang.Kami hanya bersorak sesaat di Kramat.Mencari wajah yang tak lagi dapat dikenali.Seperti gedebong hanyut,Rombongan terdiam pulang.Sambil menenteng kembang layuUntuk dibuang!1999
Monday, January 27, 2014
Puisi Legenda Mat Item | Zeffry J. Alkatiri
0 komentar Monday, January 27, 2014 Diposting oleh kumpulankaryapuisiLegenda Mat ItemZeffry J. AlkatiriKopiah hitam merah beludruMiring ke kananMenutup kepala berambut ikalDi dalamnya tersimpan jimat pelenyap tubuh.Kumis setebal akar bahar di lenganMata merah beloPersis akik darah di jari tanganSepucuk postol bekas rampasan nicaDan sebuah golok terselip di kanan kiri pinggangYang dililit sabuk kedot kebalMat Item:Senterklas sohor Betawi kulonBenggolan tulen tukang santronJangan coba sebut sembarang nyebutJin angin dapat mengantarnya ke mana dia suka.Mat Item suka menyelam dalam lautan malamDan muncul seketika di depan pintuWarung babah gendut di bilangan Tanggerang, Muara Karang,Pesing, Angke,dan Rawa Buaya.Atau mampir melepas cumbuKe rumah janda dan istrinya di Srengseng,Kedoya, Kreo, Serpong, Lengkong,dan Maruya.Jika Mat Item NyamperCenteng petenteng pada kederBandar judi keprok dan sintirKudu nyetor.Buntelan hasil jarahan disebarUntuk pengganjal perut tipis lesakSisa kurban jaman Jepang.Judas Eskariot mata recehanDiam-diam mengintip dalam barisan.Segepok captunan dari kepolisianMenaklukan jimat kesaktianDua puluh letusan tapak jalakMenghujam di tubuh kekar hitamTanpa balutanDarahnya menyatu dalam gulungan arusKali AngkeSebagian jasadnya dimoyak dan dilemparKe berbagai tempat jin buang anak.Salah satunya tertanam di pemakaman EnclekTanggerangPada nisannya tertulis:H. Muhammad ItemAlias Mat ItemWafat 12-2-19531998
Puisi Jampi Dukun Bayi Betawi | Zeffry J. Alkatiri
0 komentar Monday, January 27, 2014 Diposting oleh kumpulankaryapuisiJampi Dukun Bayi BetawiSUARA AZAN DIBISIKKAN KE TELINGA SI BAYIZeffry J. AlkatiriMate jangan seliat-liatnyeKuping jangan sedenger-dengernyeLidah jangan sengomong-ngomongnyeMulut jangan semakan-makannyeMuke jangan semerengut-merengutnyeBibir jangan sedower-dowernyePerut jangan sebuncit-buncitnyeJidat jangan selicin-licinnyePale jangan sebotak-botaknyeTangan jangan sepegang-pegangnyeKaki jangan sejalan-jalannyeKulit jangan sebuduk-buduknyeInsyaallah… Wabarakallah …Nangis jangan sejadi-jadinyeMarah jangan sengamuk-ngamuknyeOtak jangan selupe-lupenyeHati jangan sekosong-kosongnyeDarah jangan sekotor-kotornyePuah! Alhamdulillah…1999
Puisi Keroncong Tugu | Zeffry J. Alkatiri
0 komentar Monday, January 27, 2014 Diposting oleh kumpulankaryapuisiKeroncong TuguZeffry J. AlkatiriAngin kering teluk JakartaPedas menggigit kulitMenusuk mata menjadi lebambuaya muara mengatupkan rahangDan menyembunyikan matanya yang berair.Bersama dengung snar macina, prunga,dan zitaraYang sedang distemNyamuk rawa ikut nimbrung mendengarkanPara MardijkerPenghuni wilayah Kapten JongkerMengalunkan lagu Porto buyut mereka:Dari Ceylon kita berangkatMampir dahulu di Malaka, ya nona.Lewat laut untung selamatAkhirnya sampai di BataviaTapi, sampai sekarang tetap melarat.Pagar rumput sebagian membungkukMencium air payau Ford MarundaDan Tanah Merdeka.Bulir pasir terus berjatuhanDalam gelas kaca dan membenamkanKaum Kristao bersama Tugu Padraodalam rawa.Tinggal tersisa tangan keluargaAbraham, Quiko, dan AndriesMegap menggapai tali lonceng gerejaAgar tetap bergemaMalam disayat suara biolaSeorang bayi terlelap di pangkuan ibunyaYang perlahan mendendangkanLagu Nina Bobo.1998
Subscribe to:
Posts (Atom)
