Monday, January 27, 2014

Puisi Keroncong Tugu | Zeffry J. Alkatiri


Keroncong Tugu
Zeffry J. Alkatiri

Angin kering teluk Jakarta
Pedas menggigit kulit
Menusuk mata menjadi lebam
buaya muara mengatupkan rahang
Dan menyembunyikan matanya yang berair.
Bersama dengung snar macina, prunga,
dan zitara
Yang sedang distem
Nyamuk rawa ikut nimbrung mendengarkan
Para Mardijker
Penghuni wilayah Kapten Jongker
Mengalunkan lagu Porto buyut mereka:

Dari Ceylon kita berangkat
Mampir dahulu di Malaka, ya nona.
Lewat laut untung selamat
Akhirnya sampai di Batavia
Tapi, sampai sekarang tetap melarat.

Pagar rumput sebagian membungkuk
Mencium air payau Ford Marunda
Dan Tanah Merdeka.
Bulir pasir terus berjatuhan
Dalam gelas kaca dan membenamkan
Kaum Kristao bersama Tugu Padrao
dalam rawa.

Tinggal tersisa tangan keluarga
Abraham, Quiko, dan Andries
Megap menggapai tali lonceng gereja
Agar tetap bergema

Malam disayat suara biola
Seorang bayi terlelap di pangkuan ibunya
Yang perlahan mendendangkan
Lagu Nina Bobo.

1998

Anda sedang membaca kumpulan/contoh/artikel/puisi/sajak/pantun/syair/tentang/tema/bertema/judul/berjudul Puisi Keroncong Tugu | Zeffry J. Alkatiri dan anda bisa menemukan kumpulan/contoh/artikel/puisi/sajak/pantun/syair/tentang/tema/bertema/judul/berjudul Puisi Keroncong Tugu | Zeffry J. Alkatiri ini dengan url http://kumpulankaryapuisi.blogspot.com/2014/01/puisi-keroncong-tugu-zeffry-j-alkatiri.html,anda juga bisa meng-click kumpulan/contoh/artikel/puisi/sajak/pantun/syair/tentang/tema/bertema/judul/berjudul Puisi Keroncong Tugu | Zeffry J. Alkatiri Tetapi dilarang merubah isi maupun mengganti nama penyair/pengarang nya karena bertentangan dengan HAKI, semoga anda ter-inspirasi dengan karya Puisi Keroncong Tugu | Zeffry J. Alkatiri salam Karya Puisi

0 comments:

Post a Comment

Loading
 

kumpulan karya Puisi | Copyright 2010 - 2016 Kumpulan Karya Puisi |