Monday, February 3, 2014

Puisi Malari: 1974 | Zeffry J. Alkatiri


Malari: 1974
SEBUAH EPISODE YANG DIGUBAH BERDASARKAN PENGALAMAN PENULIS SEWAKTU DUDUK DI KLAS II SMPN XXXV - GAMBIR
Zeffry J. Alkatiri

Bubaran sekolah aku mengikuti rombongan
Yang meneriakkan pekik kebebasan dalam
kemarahan.
Pada hari itu aku bangga
dapat mengempiskan tiga mobil perwira.
Temanku lima bahkan ada yang sepuluh.
Semua berlomba mengumpulkan pentil
sebanyak mungkin.
Para perwira terpaksa harus berjalan
bersama massa.
Pada hari itu kami bangga
dapat mengusir Panser
Yang petugasnya berendam di dalam.
Kami bergembira dapat menghalau robot-robot
berpakaian seragam
Yang mundur kehabisan strum.
Pada hari itu, kami menjadi sombong,
Karena berhasil menakuti para birokrat
dan aparat.

Di Pejambon,
Aku bergabung dengan serombongan Arek
Yang seakan sedang mementaskan
pertunjukan reog.
Mata mereka seperti terpejam.
Hawa mulutnya menebar anggur kebencian
Garang membawa balok dan pentungan
Sambil berteriak seperti orang kesurupan.

Kami lalu berbelok ke arah Lapangan Banteng
Menuju Proyek Senen.
Di sana,
Para perempuan penjaga toko
berlari merunduk
Seperti kijang menghindar terkaman macan.
Pemilik toko komat-kamit,
Entah berdoa atau ngomel tak karuan.
Para preman Batak ikut sibuk
membersihkan perhiasan.
Warga Sentiong, Tanah Tinggi, Kwitang,
dan Alamo Kwini
Berebut memusnahkan
barang produksi Jepang.
Sehari itu,
Mata kami menjadi ahli membedakan
Barang yang mana yang harus dibuang

Proyek Senen terbakar,
Jakarta lengang
Semua orang berjalan
Bahkan di jalan orang dapat tiduran.
Iring-iringan rombongan seperti ada perayaan.

Ya, memang ada
Perayaan menyambut kemenangan
Perayaan menyambut kebencian
Perayaan menyambut kemarahan
Dan perayaan menyambut kecemburuan.

Atas nama sebagian orang yang tidak dapat
mencicipi harta bantuan utang Jepang.

Di Bunderan Air Mancur,
Mahasiswa bersama massa mendesak aspri
mundur
Karena dianggap sebagai antek Tanaka
Yang menjerumuskan masyarakat Indonesia
ke jurang romusha.

Brandwier kehabisan air
Untuk memadamkan jiwa-jiwa yang terbakar
Yang melemparkan kekesalannya melalui
batu-batu,
Melalui linggis, dan melalui api.
Baru pada hari itu, aku merasakan menjadi
pemilik kota ini
Dan merasakan menjadi pemilik negeri ini.
Setelah berjalan berputar-putar,
kami berpencaran.
Di pinggir jalan orang bertanya,
Tentang asap yang menghitam
di belakang kami.

Di depan jalan ke rumahku
Para tetangga bergerombol
Seakan berhasil menjerat mangsa buruan
Mereka mengurungku dan menanyakan
peristiwa hari itu.
Ternyata, aku adalah orang pertama yang
ditunggunya.
Nah…, aku menjadi pewarta.
Mereka mengikutiku sampai ke serambi
rumahku.
Dengan tenang kuurut semua menit kejadian.
Pada hari itu Aku menjadi berita
Aku menjadi pencerita
Aku menjadi koran dan radio
Aku adalah si pewarta
Yang bangga dapat mengalahkan
Oom Usman dan ‘Ceu Ety
Yang biasa menyajikan berita kepada para tetangga.

Akulah berita
Akulah koran dan radio
Akulah si pencerita
Akulah si pewarta
Akulah si pencatat pertama
Yang membuat Oom Usman dan ‘Ceu Ety
melongo dan keqi
Pada hari itu kesombongan mereka
kutaklukkan.

Sampai tengah malam
Para tetangga masih seperti lalat
mengerubungi bangkaiku.
Walaupun berjalan berkilo meter,
aku tidak merasa lelah.
Yang tersisa hanya perasaan bahagia
Atas kebebasan, kemenangan,
dan keberanian.

Selesai,
Semua telah kuwartakan.
Tapi ada sesuatu yang kulewatkan
Yang tak kuceritakan pada mereka
Dan tak akan pernah kuceritakan,
Bahwa di dalam kantong celanaku
Tersimpan puluhan jam tangan
Dan beberapa emas batangan
Hasil jarahan…

1999

Anda sedang membaca kumpulan/contoh/artikel/puisi/sajak/pantun/syair/tentang/tema/bertema/judul/berjudul Puisi Malari: 1974 | Zeffry J. Alkatiri dan anda bisa menemukan kumpulan/contoh/artikel/puisi/sajak/pantun/syair/tentang/tema/bertema/judul/berjudul Puisi Malari: 1974 | Zeffry J. Alkatiri ini dengan url http://kumpulankaryapuisi.blogspot.com/2014/02/puisi-malari-1974-zeffry-j-alkatiri.html,anda juga bisa meng-click kumpulan/contoh/artikel/puisi/sajak/pantun/syair/tentang/tema/bertema/judul/berjudul Puisi Malari: 1974 | Zeffry J. Alkatiri Tetapi dilarang merubah isi maupun mengganti nama penyair/pengarang nya karena bertentangan dengan HAKI, semoga anda ter-inspirasi dengan karya Puisi Malari: 1974 | Zeffry J. Alkatiri salam Karya Puisi

0 comments:

Post a Comment

Loading
 

kumpulan karya Puisi | Copyright 2010 - 2016 Kumpulan Karya Puisi |