Wednesday, May 21, 2014

Puisi Pencarian Cahaya dari Maha Cahaya | Tajuddin Bacco


Pencarian Cahaya dari Maha Cahaya
Tajuddin Bacco

Sejak lama aku berlindung
Dari kemungkaran
Kemunafikan
Kepalsuan
Kekejian
Kekejaman
Tipu muslihat

Dibedaki wajah menjadi rupawan
Dikumandangkan pesan-pesan kebaikan
Dipancarkan cahaya menerangi
Dinyalakan lampu benderang
Diulurkan tangan kasih
Dipersembahkan perilaku sopan
Didendangkan nyanyian pucuk-pucuk daunan
Dipamerkan kecakapan
Dibeberkan garis-garis kehidupan
Didedahkan jabatan
Dicernakan segenap diri
Dikenakan topeng dengan wajah berseri
Disematkan berjuta bintang
Disebarkan segala-galanya
Hanya karena atas nama kecintaan

Berlumuranlah hitam kopi
Berlepotan nestapa
Berkobarlah semangat kerinduan
Berdenguslah nafas yang deras
Hingga:
Gunung-gunung tumbuh liar
Bukit-bukit terserak
Sungai-sungai mengalir terus
Serpihan debu-debu menyesakkan
Dingin menyungsum tulang

Kini setumpuk kekesalan terjadi
Karena awan yang hitam menurunkan kilat dan
hujan
Seperti membawa hukuman dari langit
Halilintar yang menyengat
Petir api yang menyala membelah cakrawala
Saga yang tertanam di matanya
Tak sempat dibuang jauh-jauh dan menerkam setiap
saat
Sangat kusamlah hari-hari dan bulan-bulan
Melintas batas rasio dan nalar
Terhempas dalam biduk yang karam
Jentera hari yang lemah
Gampang tersuapi dengan segala kecantikan pribadi
Meski ku tahu siapa
Mencinta siapa
Dicinta siapa
Dibenci siapa
Masih tak menjawab secuilpun fatamorgana
Terlalui sudah jalan yang ditempuh
Memang nasib membawa badan berlari
Sarat dengan kealfaan demi kealfaan
Sarat dengan tanggung jawab moral yang tinggi

Terlebih-lebih lagi:
Terlangar rambu-rambu
Dari sisi jalan yang dilalui
Perangkat buaian dinikmati
Sepinya malam
Angin laut selatan
Deru pasir beterbangan
Peluk dan cium kemesraan
Inilah: genggaman yang erat
Dilepas enggan
Dibiarkan: bertobat

Menghangatkan kebebasan
Adalah sengketa hati dan perasaan
Kinilah saatnya tercipta pembalasan
tiang gantungan
Sebab semua orang menyaksikan
Ke mana-mana pergi menawarkan diri

Kepada puncak-puncak bangunan
Kepada gemeretak kemajuan zaman
Sematkan kertas-kertas
Kian hari lusuh dilumat berbagai keinginan
Membaca dan gila
Ke manakah lagi hendak dipersembahkan
Karena sangat naïf membasuh kaki berkubang lumpur
Mengadu kepada siapa

Menghujat kepada kelakuan
Menyusup pada pagar yang selama ini menjadi
cahaya mata
Sang mutiara yang selalu dipelihara dan dirawat
Dikontrol dan selalu dicuci pada sungai-sungai kaki
langit
Kebersihan iman
Akh, nestapa
Kau gampang menciptakan kegemaran
Lalu menghempaskan yang mabuk dan ngeyel
Lalu menghempaskan batin dan raga
Di belantara misteri yang tak pernah aku mengerti
Seringkali aku segera ingin berpaling dari
Jerat-jerat cintamu
Semakin kujalani
Semakin susah dapat kupahami
Sedalam laut pengertian diberikan
Sangat luas hayati disuguhkan
Sangat benar saranmu yang manis bagai madu
Nikmat bagai anggur

Dari sini setiap saat dipanggil namamu
Diteriakkan dalam diam
Dipasarkan dalam do’a
Dipeluk dalam segenap perasaan dan semuanya

Wahai kasmaran yang didekap erat Satu
Kau bawa ke mana lagi saat-saat peristiwa terjadi
Menggumpal dan terus mengkristal
Perjanjian telah dibuat
Digelar dari mulut ke mulut
Kasih sayang

Betapa tulusnya,
Bumi pun menyambutnya dengan keberanian dan
Kegembiraan
Sebab dirinya sudah muak menampung fakta
Atas nama cinta

Padahal dorongannya:
Menyeruak, menembus apa saja
Batas penghalang sudah kalah
Ia yang bebas bergerak lewat puisi
Ia yang bebas lewat senandung
Membahana
Mengguncang
Meninabobokan semuanya
Susuk yang ditanam di dadaku
Sudah tak laku lagi
Sinarnya yang mulai redup karena tua
Karena rasa yang membuncah dan lupa daratan
Menangis adalah airmata
Menjadikan saksi-saksi
Merasa kasihankah diri?

Bersujud di sajadah
Bertasbih di bibir hati dan jiwa
Berjuang melawan rasa:
Kasih sayang yang kautumpahkan yang
melencengkan perasaan
Penghujung waktu kian mendekat
Pukullah genderang peperangan
Harus diusirkan dari dada
Usirlah semuanya

Berkata pada hari-hari yang berlalu
Terlalu susah melarikan diri sendiri
Sebab sering kata-kata susah menjadi semanis madu
Selalu saja terungkap kekecewaan dan lalu hancur
Maka atas nama pencipta kasih dan sayang dan cinta
Bersandarlah pada lautan luas
Semua ilmu menjadi suluh
Semua harapan menjadi kesaktian

Di sinilah kusodorkan diriku di hadapanmu
Menunggu pengadilan dari hakim
Meski buramnya pandanganku karena airmata yang
turun bagai hujan
Pada latar pengorbanan ini
Hendaknya segeralah lepas
Topeng-topeng kepalsuan
Kuberkata pada bumi: tampunglah batangan jiwa ini
Janganlah kau dera lagi dirinya
Sebab sifana telah lama menghukumnya dengan siksa
batinnya

Wahai aku ingin saja lari ke selimutmu buana
Sebab tak kuat lagi rasanya menyimpan misteri
ciptaNya ini
Sebab tak jembar lagi batangan puisi ini menampung
hari-hariku
Meski bunga tetap harum semerbak
Meski burung-burung tetap bernyanyi riang
Pencarian cahaya maha cahaya
Adalah dari ikhlas ke ikhlas lagi
Tujuan akhir memasuki alam kekinian abadi

Yogyakarta, 10-9-2000

Anda sedang membaca kumpulan/contoh/artikel/puisi/sajak/pantun/syair/tentang/tema/bertema/judul/berjudul Puisi Pencarian Cahaya dari Maha Cahaya | Tajuddin Bacco dan anda bisa menemukan kumpulan/contoh/artikel/puisi/sajak/pantun/syair/tentang/tema/bertema/judul/berjudul Puisi Pencarian Cahaya dari Maha Cahaya | Tajuddin Bacco ini dengan url http://kumpulankaryapuisi.blogspot.com/2014/05/puisi-pencarian-cahaya-dari-maha-cahaya.html,anda juga bisa meng-click kumpulan/contoh/artikel/puisi/sajak/pantun/syair/tentang/tema/bertema/judul/berjudul Puisi Pencarian Cahaya dari Maha Cahaya | Tajuddin Bacco Tetapi dilarang merubah isi maupun mengganti nama penyair/pengarang nya karena bertentangan dengan HAKI, semoga anda ter-inspirasi dengan karya Puisi Pencarian Cahaya dari Maha Cahaya | Tajuddin Bacco salam Karya Puisi

0 comments:

Post a Comment

Loading
 

kumpulan karya Puisi | Copyright 2010 - 2016 Kumpulan Karya Puisi |