Friday, October 10, 2014

Puisi Peranakan Tionghoa Setengah Baya | Dimanuga


ilustrasi


Peranakan Tionghoa Setengah Baya
--untuk Pak LTK--
Dimanuga

mungkin ia seumuran bapakku
ia kawanku, pernah jadi seniorku
mungkin ia pernah memperanakkanku
mungkin saja

kala tsunami melanda, jauh di seberang lautan
kala itulah awalku belajar banyak darinya
dari peranakan Tionghoa setengah baya
aku seperti murid taman kanak-kanak

ketika kawan-kawannya sesama peranakan Tionghoa
lebih suka berhati-hati dan waspada
kepada kulit cokelat, sawo yang tak pernah matang
"... itu si Jawir, Jawir," terkadang sebutnya padaku
aku tak pernah merasa paria
aku yakin juga ia tidak sedang merasa tuan yang jemawa

sebutnya itu bukan wujud dendam yang tak pernah bisa terbalas
sebutnya itu mengajarkanku untuk menjadi kuat
deritanya, derita kita juga si kulit cokelat
atau yang lebih gelap, pun si kuning langsat

aku menghormatinya
bukan seperti buruh yang dikuasa majikan
aku yakin ia mencinta
seperti pertapa kepada muridnya
murid-muridnya, mereka semua menghormatinya
ia guru yang dicinta semesta
brahmana yang menghancurkan batas kelas

peranakan Tionghoa setengah baya
bukan kaisar pemilik Tembok Raksasa
berkuasa atas apa-apa termasuk para gundiknya
dan kehendak udel-nya
bukan pula budak angkut kafilah Jalur Sutra
hina dina karena kalah perang kaumnya

peranakan Tionghoa setengah baya
sayangnya ia senang mabuk
hingga suatu kali dalam mabuknya ia menantang polisi
seperti menyuruh ayam persembahan pawang
berkokok memanggil hujan
dan si polisi menjadi maha berani

maka kami harus lari
tapi si polisi seperti kucing terhalang hujan
basah percuma dan tak ada ikan
maka kamilah tikus tertimpa batang pohon
yang tumbang terhempas hujan

aku ingat, suatu waktu peranakan Tionghoa setengah baya
sambil memperlihatkan kartu pengenalnya berkata,
"aku pengikut Buddha. tiap minggu kuantar istri dan anakku ke gereja!"
dan lain waktu ia seperti berkata,
"untuk apa aku ini bertakwa, kalau mencinta sesama saja aku tak bisa?"

dan peranakan Tionghoa setengah baya tidak sedang mabuk
tidak juga aku, entah otakku

Jumat, 3 Oktober 2014


Anda sedang membaca kumpulan/contoh/artikel/puisi/sajak/pantun/syair/tentang/tema/bertema/judul/berjudul Puisi Peranakan Tionghoa Setengah Baya | Dimanuga dan anda bisa menemukan kumpulan/contoh/artikel/puisi/sajak/pantun/syair/tentang/tema/bertema/judul/berjudul Puisi Peranakan Tionghoa Setengah Baya | Dimanuga ini dengan url http://kumpulankaryapuisi.blogspot.com/2014/10/puisi-peranakan-tionghoa-setengah-baya.html,anda juga bisa meng-click kumpulan/contoh/artikel/puisi/sajak/pantun/syair/tentang/tema/bertema/judul/berjudul Puisi Peranakan Tionghoa Setengah Baya | Dimanuga Tetapi dilarang merubah isi maupun mengganti nama penyair/pengarang nya karena bertentangan dengan HAKI, semoga anda ter-inspirasi dengan karya Puisi Peranakan Tionghoa Setengah Baya | Dimanuga salam Karya Puisi

0 comments:

Post a Comment

Loading
 

kumpulan karya Puisi | Copyright 2010 - 2016 Kumpulan Karya Puisi |