Sunday, April 13, 2014

Puisi Giri: Ciuman Bibirku yang Kelabu | Mardi Luhung


Giri: Ciuman Bibirku yang Kelabu
Mardi Luhung

Seperti bangun-bangunan batu yang tebal
aku ciumi dindingmu dengan bibirku yang kelabu
lantaran kedua kakiku terikat besi, sedang
tanganku cuma bisa mencengkeram lemah

ya, ada degup di situ, aku dengar pelan-pelan
dan seseorang yang telah hancur berabad dulu
pun bangkit menghadang dengan rambut panjang
kemilau dan matanya, ya, matanya: “Mata si pemburu”

yang pernah melarung darah petir dan kilat
saat huruf belajar menyapa matahari-hijau, yang terbit
di antara kelangkang-gunungmu, tampak seperti
tatapan-tatapan yang sudah lama tak bergaung

dan mata si pemburu pun menggali lingkaran kapurmu
di mana, di situ tersimpan wajah-wajah makhluk
yang pernah berjaga di pinggir-pinggir sungai dengan
sorot tubuh menyiratkan pencapaian

lalu, mengapa wajah-wajah makhluk itu membedol
di pinggir-pinggir sungai? Apakah pencapaian yang
disiratkannya adalah dusta? Adalah si lendir amis yang
telah membuahkan patung dan menancapkan berjuta
bahasa-palsu di keningnya?


dan, lihat, kekuatan apakah yang sanggup menahan
limpahan bedolan sungai itu? Adakah yang tahu, jerit
kesakitan ataukan kelahiran yang disajikannya? Dan
adakah juga yang mencatatnya, lalu menenggelamkan

ke dasar-dasar palung dan jurang, dan membuat aku
mesti mengoreknya lewat cengkeraman yang lemah ini
sambil sesekali menatap angkasa yang menaburkan
serbuk-serbuk kasar bekas pecahan bulan-lain yang
sekarat

yang datang entah dari sisi mana, akibat peperangan
apa, dan membela dewa dan kitab siapa? Oh, aku pun
cuma sanggup mengigau sambil membayangkan sebuah
jalan-berkelok menuju keratonmu yang hilang itu

yang pernah mencelupi mimpi-mimpiku, dengan
puncak-puncak kubahnya yang gilap, yang melambai
penuh harap, agar kita berdua memasukinya, kawin di
situ, dan beranak tujuh-puluh-dua duyung dengan sisik
yang bening

duyung yang selalu berenang di seputar garis debar,
sambil mendedahkan sebuah teka-teki: “Manakah yang
lebih dulu, air ataukah lautan, manik tasbih ataukah
dengus dzikir, daya hafal ataukah daya baca?”

ya, Giri, Giriku, lebih dekatkanlah dindingmu pada
ciuman bibirku yang kelabu ini …

Gresik, 1997

Anda sedang membaca kumpulan/contoh/artikel/puisi/sajak/pantun/syair/tentang/tema/bertema/judul/berjudul Puisi Giri: Ciuman Bibirku yang Kelabu | Mardi Luhung dan anda bisa menemukan kumpulan/contoh/artikel/puisi/sajak/pantun/syair/tentang/tema/bertema/judul/berjudul Puisi Giri: Ciuman Bibirku yang Kelabu | Mardi Luhung ini dengan url http://kumpulankaryapuisi.blogspot.com/2014/04/puisi-giri-ciuman-bibirku-yang-kelabu.html,anda juga bisa meng-click kumpulan/contoh/artikel/puisi/sajak/pantun/syair/tentang/tema/bertema/judul/berjudul Puisi Giri: Ciuman Bibirku yang Kelabu | Mardi Luhung Tetapi dilarang merubah isi maupun mengganti nama penyair/pengarang nya karena bertentangan dengan HAKI, semoga anda ter-inspirasi dengan karya Puisi Giri: Ciuman Bibirku yang Kelabu | Mardi Luhung salam Karya Puisi

0 comments:

Post a Comment

Loading
 

kumpulan karya Puisi | Copyright 2010 - 2016 Kumpulan Karya Puisi |