Wednesday, February 5, 2014

Puisi Surat-suratku Kepada Gusti Nara | Ediruslan PE Amanriza


Surat-suratku Kepada Gusti Nara
Ediruslan PE Amanriza

Masih ingatkah engkau surat pertama yang kukirim kepadamu. Di
sehelai kertas kumal kutulis dengan pensil, di sana kunyatakan :
Gusti Nara aku cinta kepadamu.
Dan di dalamnya kuselipkan uang 50 sen.
Kau pun berlari ke bawah pokok asam di kaki bukit, dengan hati
berdebar kau membacanya. Tapi seorang kawanmu akhirnya men-
jadi pangkal bala, ia mengadukan hal itu kepada guru. Kau masih
ingat guru merotan telapak tanganku?
Aku menjerit dan melompat dari jendela.
Sejak itu aku tak datang-datang lagi ke madrasah.

Sekarang rumah sekolah di kaki bukit itu sudah rubuh. Tapi
pokok asam - tempat pertama kau membaca suratku dan membe-
lanjakan uang 50 sen kepada pecal mak Siti - masih berdiri dengan
kukuh, dan aku pun masih ingat kepadamu.

Di landai bebukitan itu kini tumbuh pohon dan ilalang. Anak-anak
tidak lagi bermain layang-layang seperti ketika landai itu masih
tanah lapang dan aku di sana termangu menantimu dari ladang.
Nara, mereka semua sudah jadi dewasa - tentu - dan tinggal di
Jakarta.

Terakhir kudengar kau di Waterford-Connecticut menjadi guru.
Dan si bule, senator yang suamimu itu akan mondar-mandir Con-
necticut-New York. Suratkabar selalu memberitakan kecamannya
terhadap perang Indochina ke II, tapi lupa pada kesepianmu. Dan
kau pun tak pernah menulis ke Indonesia, kepadaku. Sedang aku
tahu pasti murid-muridmu tak cukup memberikan keceriaan ke-
padamu. Lantas kau mencoba melerai kesepian itu dengan mem-
baca novel-novel Agatha Christy, Emile Zola, Lady Chatteley's
Lover-DH Lawrence dan Papilon Henri Charriere serta kakek tua
Hemingway tapi kau lupa membaca Profil and Courage JF Ken-
nedy.

Dan tidak kau temui di sana desah cemara di Bulak Sumur, debur
ombak pantai padang tidak seperti di Dover Beach.
Meskipun pasti kau tidak akan membenamkan tangisan ke bantal-
bantalmu yang harum. Kau tidak lagi cukup remaja untuk itu
terlebih-lebih sangat berbahaya bagi penyakit matamu.

Tapi juga aku tak dapat menceritakan kebanggaan kampung kita.
Ladang-ladang di sini sudah tak ada lagi. Tanah-tanahnya sudah di-
beli sebuah maskapai perminyakan.
Highway sepanjang Bukitbarisan itu tak jadi siap. Menteri pem-
bangunannya ditangkap, terlibat korupsi. Setelah itu tak ada lagi
yang berniat meneruskannya.

Meskipun negeri pekan kemis di kaki bukit kawin itu sudah men-
jadi objek pariwisata tapi Mursal Esten dalam pemilihan tahun lalu
ditolak menjadi menteri perdagangan. Ia kini berdagang hasil-hasil
ukiran kawan-kawan yang tak tamat ASRI.

Wisran sudah meninggal, jabatan terakhirnya ketua RT di lapai.
Tapi salah seorang anaknya memimpin tonil keliling.

Leon Agusta penyair yang gondrong itu sekarang di Kuala Lumpur,
ia menjabat rektor pada universiti kebangsaan.

Wunuldhe Syaffinal berhasil menjadi penyair terkenal, ia telah
pun menulis beberapa novel yang sangat laris di negara-negara
ASEAN, tapi gagal menjadi polisi.

Abrar Yusra dan Chairul Haran sudah pindah ke Lubuk Alung
berkedai di pinggir jalan.

Rusli Marzuki Saria dan Hamid Jabbar kini memimpin pesantren
wanita di Kayu Tanam.

Tapi nasib malang menimpa Ibrahim Sattah, ia tenggelam dalam
perjalanan antara Laut Cina Selatan dan Tanjung Pinang tanpa
menyandang salib.

Irsyadi Nurdin Yassan kehilangan satu suku kata namanya kemu-
dian kehilangan nyawa.

AA Navis sekarang memimpin Horison. Majalah sastra dan kebu-
dayaan itu sudah beroplag puluhan juta dan menjadi bacaan wajib
di Universitas Riau.

Seluruh seniman besar yang di Jawa dulu – yang masih hidup –
sudah menjadi pembesar dan kini mereka mengerjakan apa yang
dulu ditentangnya.

Yang lain-lain sebagaimana adanya terlihat pada negeri sedang ber-
kembang : bencana alam
                bencana manusia

Nara, masih ingat kau anak-anak Koes Plus?
pada sebuah bait dari Nusantara, mereka bernyanyi:
                        “tanahnya subur seperti tubuhku”
Dan tubuh mereka yang menyanyikan itu ceking-ceking.

Gusti Nara,
Aku sampai kini belum juga nikah, meskipun dokter bilang aku
tidak impoten tapi orang-orang tua kalau tidak kaya di Indonesia
tidak laku.
Kudengar juga kau tak punya anak, mandul. Tak apa.

Kalau sekali ada kesempatan dalam hidupmu kembali ke kampung
dan umpamanya aku sudah tiada. Lihatlah sebuah rumah di kaki
lembah itu. Di halamannya kutanam sejuta bunga yang belum
kuberi nama, di landai bebukitan itu kutanam cengkeh dan kulit
manis, sebuah kolam di bawahnya hidup bermacam-macam ikan.

Tolong kau uruskan ke penghulu dan camat sertipikatnya agar
tanah ini jangan sempat diambil maskapai perminyakan itu, mes-
kipun lautan minyak di bawahnya berombak dengan dahsyatnya.

Gusti Nara,
Cuma itu pesanku
Aku sudah sangat tua
Kalau umurku masih dalam beberapa tahun ini tentu aku
akan menyurat lagi kepadamu
Barangkali saja kau mau tahu tentang perkembangan musik pop
di kampung kita

Gusti
Kembalilah ke Indonesia

1975/1978

Anda sedang membaca kumpulan/contoh/artikel/puisi/sajak/pantun/syair/tentang/tema/bertema/judul/berjudul Puisi Surat-suratku Kepada Gusti Nara | Ediruslan PE Amanriza dan anda bisa menemukan kumpulan/contoh/artikel/puisi/sajak/pantun/syair/tentang/tema/bertema/judul/berjudul Puisi Surat-suratku Kepada Gusti Nara | Ediruslan PE Amanriza ini dengan url http://kumpulankaryapuisi.blogspot.com/2014/02/puisi-surat-suratku-kepada-gusti-nara.html,anda juga bisa meng-click kumpulan/contoh/artikel/puisi/sajak/pantun/syair/tentang/tema/bertema/judul/berjudul Puisi Surat-suratku Kepada Gusti Nara | Ediruslan PE Amanriza Tetapi dilarang merubah isi maupun mengganti nama penyair/pengarang nya karena bertentangan dengan HAKI, semoga anda ter-inspirasi dengan karya Puisi Surat-suratku Kepada Gusti Nara | Ediruslan PE Amanriza salam Karya Puisi

0 comments:

Post a Comment

Loading
 

kumpulan karya Puisi | Copyright 2010 - 2016 Kumpulan Karya Puisi |