Showing posts with label Hudan Nur. Show all posts
Showing posts with label Hudan Nur. Show all posts

Thursday, December 27, 2012

Puisi Triwikrama Cinta | Hudan Nur

0 komentar

TRIWIKRAMA CINTA
Hudan Nur

lelaki kusut itu telah menjadi sarjana cinta
di sajak-sajak tuanya dalam perban kesetiaan
merembang bujana meniti keingsunan  
cinta yang fasik

dongeng petang di serambi hatimu
merubah batin menjadi nubuat sangsai
tak lunas menghalau rindu yang terselip disaku rompinya
lantaran jodoh hanya separagraf kalimat

kau lasah hari-hari dengan keringat perempuan
angin menukil proposal cinta tanpa gelagat berkesudahan 
lelaki kusut itu masuki balai agung
pendeta umumkan gelar barunya

: fetus dilanglang alamat kasih
mazbah gereja disesaki pelawat-pelawat kata
karantina penghabisan lalu-landang di hadapanmu
seorang pastur berkata:

di jari manismu ada rindu*

Teras Puitika, 17 Januari 2011   

)*Judul buku puisi Hamami Adaby tahun 2008

http://www.pikiran-rakyat.com/node/144117?page=1

Friday, December 7, 2012

Puisi Menikahi Malam | Hudan Nur

0 komentar

sumber gbr : artstyleonline.com

MENIKAHI MALAM
: Hands Ranjiwa
Hudan Nur

seorang paroki membaptismu sebagai pemazmur rupa
semangkuk hujan telah dipersiapkannya
kau simpan dalam album jalanan yang kau rajut di sepanjang musim
lalu dijadikan garda melamar kekasihmu

hands,
kau merambang malam sebagai galas tuhan
yang maha pedih
airmata anakmu hanya sebaris kebekuan yang kau rasa bila dingin menerjabmu
tetapi kau tetap bertahan
membina hubungan dengan malam
lalu menyetubuhinya

hands,
di jantung kota ini kita berkenalan dalam selembar kanvas
kau pagut malam dengan lukisan muram
aku masih melihat wajahmu menekan kemerdekaan
dibalik ruang yang kau pasung
sebagai ranum kepura-puraan 
menikahi malam telah membuatmu haus

: kembaramu mengaduh
kau memakunya dalam segandeng rana

hands,
percuma kau menuba jiwa belantara,
memetik bintang di kantung mata pernikahanmu
kau tetap berhati gersang!

Teras Puitika, 16 Januari 2011
http://www.pikiran-rakyat.com/node/144117?page=1

Puisi Tembang Tolare | Hudan Nur

0 komentar

TEMBANG TOLARE
: (alm) Hidayat Lembang
Hudan Nur

Nyanyian itu hanya sampai di teras-teras rumah orang-orang Biromaru yang gemar berdadu, nyanyian anak lembah yang ditiupkan angin sebelum kamis memanggilnya sebagai bujang lumbago. Terkadang ia hanya tahu bagaimana meniup lalove sedang lupa mewarnai bilur-bilur nadinya dengan dedaunan. Nyanyian itu pernah kudengar di Sigi saat nelayan dari Pantai Barat menangkap napoleon dan cakalang, menggali teluk yang tak lumus dalam prakiraan manusia sampai di bibir pantai dan malamnya hanya mampu menterjemahkan lelah selebihnya nyanyian itu berlumang di telingaku. Marilah 'nak menyanyi di Loru jangan kau dengar orang kampung mengusik iramanya karena peta batin sudah tidak merurut lagi dengan dendang-dendang kakula, sudah jarang didengar tabuhannya menyuarakan dekaknya ke kita. Ia ligakan senandung dalam solmisasi hidup yang sangat sumbang. Hanya dengan melarungi secawan dupa bertuhankan ritus balia-balialah ia mengenal gugusan kelenjar air mata yang setiap hari harus diminumnya. Nyanyian itu berakhir seminggu lalu saat lelaki tolare itu ingin memanen akustik ciptaannya lewat roh-roh lembah yang selama ini sempat menjaganya tetapi ia lupa ada tembang lain yang kapan saja bisa datang menculik roh-roh itu!

Lembah Palu, November 2010  
http://www.pikiran-rakyat.com/node/144117?page=1

 

kumpulan karya Puisi | Copyright 2010 - 2016 Kumpulan Karya Puisi |