Biografi Slamet SukirnantoSlamet Sukirnanto lahir di Solo, 3 Maret 1941. putra pelukis R. Goenadi. Pendidikannya di jurusan Sejarah Asia Tenggara Fakultas Sastra Universitas Indonesia. Dikenal juga sebagai tokoh demonstran 1966, menjadi Keuta Presidium KAMI pusat (1966-hingga bubar), anggota DPRGR/MPRS (1967-1971) mewakili mahasiswa. Tahun 1973 menjadi redaktur harian Sinar Harapan. Kumpulan puisinya: Kidung Putih (1967), Jaket Kuning (1967), Gema Otak Terbanting (1974), dan Bunga Batu (1979).
Showing posts with label Slamet Sukirnanto. Show all posts
Showing posts with label Slamet Sukirnanto. Show all posts
Wednesday, May 28, 2014
Biografi Slamet Sukirnanto
0 komentar Wednesday, May 28, 2014 Diposting oleh kumpulankaryapuisiMonday, February 24, 2014
Puisi Jackpot | Slamet Sukirnanto
0 komentar Monday, February 24, 2014 Diposting oleh kumpulankaryapuisiJackpotSlamet SukirnantoHidup ini: adalah jackpot dimainkanLogam demi logam masukkan. Tarik –Sebatang kretek dinyalakan. Asap-asapmuBerhari. Berbulan. Bertahun. Dan selanjutnya –Sebelum. Dan sesudahnya selesai semua!1970
Wednesday, February 19, 2014
Puisi Kepadamu Kusampaikan | Slamet Sukirnanto
0 komentar Wednesday, February 19, 2014 Diposting oleh kumpulankaryapuisiKepadamu KusampaikanSlamet SukirnantoKepak merpati terbang di jaring mentariPutih-putih bagai berlayar mega megah abadiKepak gagak terbang di jaring mentariHitam-hitam bagai awan memendam duka yang dalamSungguh, dik, hidup mesti beginiTentang kasih, maut menagihMemendam, di dasar hati, antara kau dan aku.1967
Monday, February 17, 2014
Puisi Angin Sudah Lama Terhenti | Slamet Sukirnanto
0 komentar Monday, February 17, 2014 Diposting oleh kumpulankaryapuisiAngin Sudah Lama TerhentiSlamet SukirnantoDerak gerbong-gerbong lenyapPeluit kecil. Di kejauhanMencakar-cakar langit.Percakapan terhentiPasangan-pasangan pergiDebu-debu berteduh di kaki1971
Puisi Perbawati - Sukabumi | Slamet Sukirnanto
0 komentar Monday, February 17, 2014 Diposting oleh kumpulankaryapuisiPerbawati - SukabumiSlamet SukirnantoKarena mendung tergeser dari langitTundalah kantukmu barang sejamMari! Mengurai cahya terang di bukitTubuh menggigil dan dingin yang menggigitSebelum tiba saatnyaApi pendiangan bakal padamBakal kehilangan hangatnya baraSebab dalam kegelapan ituAntara kita tiada mampuMelahirkan kata-kataJiwa dan jiwa yang mengembaraEntah ke Sorga entah ke mana?Bicaralah lidah yang arifAdakah kau bawa dendam itu jugaYang memberat dari pusat kota.Di sini di antara dua bukitPercakapan telah bangkitDari lembah yang dalamMengatas menggapai awanMengurai kisah dan peristiwaMengeja kembali yang lampauDan meraih yang remangYang bakal datangSeperti udara dinginMendobrak tulangDi tengah senyap malamAda yang tetap menggetarkan batinmu!Bicaralah lidah yang arifAdakah kau bawa dendam itu jugaYang memberat dari pusat kota?Perkemahan Budaya Perbawati – Sukabumi, 27 Oktober 1977
Sunday, February 16, 2014
Puisi Ayunan "Berayun, Pelan, Berayun, Buyung" | Slamet Sukirnanto
0 komentar Sunday, February 16, 2014 Diposting oleh kumpulankaryapuisiAyunanSlamet SukirnantoAda saatnya kita mempermainkan waktuMaju-mundur menyentuh ujung ruangMendesak kekosonganBerayun, pelan, berayun, buyungSambil pejamkan mata barang sejenakNikmati sekilas kegelapan dan binar-binar temaramSebelum hapus oleh kilatan pijar terangBerayun, pelan, berayun, buyungHirup puas udara segar lapanganSebelum angkasa menciut, racun gadus berdesakanMembangun jasad tidur yang letihBerayun, pelan, berayun, buyungAndaikan sempat bertutur berkepanjanganTentang mengurai jiwa yang kusutBagaimana mengulur di arena keluasan?Berayun, pelan, berayun, buyungAdakah burung-burung akan singgah, seperti yang sudahMenuturkan pengembaraan di alam tak bertepiDan sorga tinggal dijangkau setapak lagiBerayun, pelan, berayun, buyungKe mana arah gema mencari pantulanJanganlah lengah pengamatan jauh jauhDan alamat lengkap pusat sasaranBerayun, pelan, berayun, buyungAlun irama berturut tanpa suaraPerahu lepas mengarungi laut bayanganSenandung ihwal pendaratanBerayun, pelan, berayun, buyungSusul-menyusul awan di dinding langitMenebal pada cadar tirai tamasyaMembenahi gelombang gumpalan maknaBerayun, pelan, berayun, buyungTahankan dahaga meratapi dinding tenggorokanLukisan telaga sumber pusaranSekeping wilayah memancar kebeninganBerayun, pelan, berayun, buyungPandanglah menatap, di balik segalanyaPanahlah dengan bijak kabut remang di sanaDan tiliklah seandainya semesta memagar batasBerayun, pelan, berayun, buyungSuara-suara lirih tiada memantul gemaAda yang meraih lepasMenghambur wilayah terbukaBerayun, pelan, berayun, buyungBila tiba di belakang, undurkan semusim lagiMasa lampau yang lengkap dalam kuburnya mengerangMenggapai, meraih detik-detiknya yang hilangBerayun, pelan, berayun, buyungBila tiba di muka, ujung jari kaki menyentuhBatas tepian dengan fanaEsok hari kan di sana, jika musim memberi pertandaBerayun, pelan, berayun, buyungPegang kuat-kuat tambang-tambang keyakinanPeganglah kuat-kuat tambang-tambang angan-anganBalikkan ke empat penjuru, dengan mata menantang.Berayun, pelan, berayun, buyungAdakah yang tersisa dari bersit megahKetika cemas menikamkan ujungnyaDan gontai melangkah harimau lukaBerayun, pelan, berayun, buyungBagaikan menyeberangi arus kaliDi sini kemudian reda melecut lepasBagian lain yang mengandung gaibBerayun, pelan, berayun, buyungAda yang menggeser, bayangan terlempar jauhTanpa bekas di dataran iniAdakah tragedi lakon menggelar bumi?Berayun, pelan, berayun, buyungPagar kawat merantai tepiAdakah gelegak getaran arusMasuk ke dalam. MenembusBerayun, pelan, berayun, buyungBagaikan dewa ruci melayang menjelajah samudraKadang menukik menggigir lembah ajaibMelahap daun kering lantunan suciBerayun, pelan, berayun, buyungTengok jam berapa sudah, hari masih tinggiDan nyanyian belum surut sudahMengajak bersenda mengayun waktuBerayun, pelan, berayun, buyungSebenarnya dirimu tidak jauh dari bumiTetapi betapa sulitnya menapakkan kakiHanya sehasta jarak kita, hanya sehasta...1972
Puisi Katakanlah Padaku | Slamet Sukirnanto
0 komentar Sunday, February 16, 2014 Diposting oleh kumpulankaryapuisiKatakanlah PadakuSlamet SukirnantoKalau hanya desau anginmuBicara sonder kataJam makin sarat memutar jarummuEngkau pun tahuKehampaan sungguh pun mencari maknanyaDi luar dirimu, di luar dirikuKemudian ulurkan tanganmuGoreskan pada dinding masa laluMariBergegas lewatTanpa tapakTanpa jejak1968
Puisi Kidung Akhir Tahun | Slamet Sukirnanto
0 komentar Sunday, February 16, 2014 Diposting oleh kumpulankaryapuisiKidung Akhir TahunSlamet SukirnantoSeorang tua jalan sendiriMeninggalkan gerbang duniawiTak ada yang lain, kecuali pergiLewat jalan akhir dan sunyi!1966
Saturday, February 15, 2014
Puisi Mahgrib Pun Sampai | Slamet Sukirnanto
0 komentar Saturday, February 15, 2014 Diposting oleh kumpulankaryapuisiMahgrib Pun SampaiSlamet SukirnantoMahgrib pun sampai. Di luar jendelaSenja terbata-bataSebelum ayat-ayat terakhirSebelum sujud usaiTuhan. Aku sendiriMenggugurkan gelisahHari iniTerimalah tutur fasih kami(Di luar gugurDaun trembesi)Tuhan. Sudah sempurnaAngka-angka pada jariTelah sempurna ayat-ayat suciTinggal aku sendiri. Di luar jendelaSemakin sunyi.1969
Puisi Perempuan | Slamet Sukirnanto
0 komentar Saturday, February 15, 2014 Diposting oleh kumpulankaryapuisiPerempuanSlamet SukirnantoBagaikan sungaiKetika sampan menyusuriGaib mimpi –Menderas ke hilirMenembus kabutMenggapai lemahDunia lain –Hanyut dalam senandungmuMenguraikan was-wasAtau cemas: masuk gerbangYang menggetarkanPilar-pilar batinPetualang sesatKejantanan dirimu!Juga yang tak terucapkanKegelapan dan samar.Dataran enggan terangBulan mencelupkan wajahnyaDi dasar pusaran kali.Hanya hati yang hendakpergi! MeninggiNamun tertahanMelingkar –Bolak-balikDan surut tenggelamDalam gelegak arusBatinmu!bagaimana bakal dikabarkan kembali?1974
Friday, February 14, 2014
Puisi Tentang Petani | Slamet Sukirnanto
0 komentar Friday, February 14, 2014 Diposting oleh kumpulankaryapuisiPetaniSlamet SukirnantoSeorang bapameneteskan air matadi pojok rumah.Kandang kerbau kosongSetahun sudah. Ia tabah(lelaki jangan menangis)Namun: kinisampailah batasmemandam gejolak dalamMeraih samarHari-hari tiada makarMembuah dalam diri. Menyerah?Ia menyatu hatiDengan padas, batu dan besiKerikil hanyut –di dasar arus hatimu!Sambil mengacungkan golok bermata duaIa teriak ke penjuru angkasaGemanya memantul dinding langitAda dendam kukuh menggigit!Pada ihwal yang datangIa berlarian sejak subuhLangkah panjang menghentak lantaimenyilang menggapaidari ujung ke ujungdusun dan ngarai!Ke mana tempat bertanya?Belum usai luka –ia kehilangan lagiRumputsemakilalang – dan padang tandus ini!1976
Thursday, February 13, 2014
Puisi Telah Aku Saksikan | Slamet Sukirnanto
0 komentar Thursday, February 13, 2014 Diposting oleh kumpulankaryapuisiTelah Aku SaksikanSlamet Sukirnantomenyerahkan ombakpada dada dan pundakketika panas siangnafas arus menderasmenggetarkan jalan darah iniTuhan, di pantai ini jugatapak kaki telah hilangketika angin rendahmendorong gelombangTelah aku saksikanlaut pasang naiklaut pasang surut(tangis bayi)asin garam membasahi kaki(tangis anak-anak)gemuruh air meninggikan ratap(tangis pengungsi)membasahi karang inipulang balik perahu cemastak mampu menyentuh daratanbagai dirimu yang mabuk lautan!Sungguh aku tak mengertibetapa awan gelapgelap apa; gelap siapakawasan memajang sepidihalau gemuruh zaman ini!Tanjungkarang, Juni 1980
Subscribe to:
Posts (Atom)

