Lembah HarauBuat mitra: Wisran Hadi dan Upita AgustineDinullah RayesLidah-lidah air terjun lembah HarauJilati bukit-bukit batu cadas terjalBasahi lambung sukma yang lapar rinduDara-dara gelar tari bagi kembara yang tibaGerak jemari hati membias wajah cermin alamMemanggil-manggil dalam isyarat tangan:Mari pulang penyair meramu rasa di ranah MinangkabauPadang yang lapang kalbu.Kita berjalan atas daun-daunmenimbun kerikil jalananMengeja cuaca, rambut-rambut waktuyang ubananKita segera pulang‘pabila umur gugur dekat kuburbunda Mualim Kerajaan.(1999; Tabloid Kilas No. 50 6-12 April 2000)
Showing posts with label Dinullah Rayes. Show all posts
Showing posts with label Dinullah Rayes. Show all posts
Monday, May 26, 2014
Puisi Lembah Harau | Dinullah Rayes
0 komentar Monday, May 26, 2014 Diposting oleh kumpulankaryapuisiPuisi Tentang Doa | Dinullah Rayes
0 komentar Monday, May 26, 2014 Diposting oleh kumpulankaryapuisiDoaDinullah Rayes1Bisik-bisik bunga rasaMendaki lereng kening-MuSemesta pun pesta cahayaTuhan merekah senyum2Tangan pun menadahtetesan embun-MuBasah kuyup jemari batinku3Kuterbangkan merpati putihhinggap di kubah benak-Musunyi pun tersipu4Engkau diam dalam senyumLidah-Mu lisankan aksara cintabuka pintu bumi sepi kasih5Hatiku kertas putihKumohon alif-ba-tas-MuLuluh dalam kaligrafibumi, langit batinku(1996; Nusa Tenggara Minggu, 5 Januari 1997)
Puisi Tentang Rindu | Dinullah Rayes
0 komentar Monday, May 26, 2014 Diposting oleh kumpulankaryapuisiRinduDinullah Rayessukma dan badan : rindu merinduburung dan ranting : rindu merinduikan dan air : rindu merindubayi dan susu : rindu merindupetani dan sawah : rindu merindubocah dan mainan : rindu merindubiduan dan lagu : rindu merindupenyair dan puisi : rindu merindutinta dan kertas : rindu merinduaksara dan buku : rindu merindusurat dan amplop : rindu merindutanah dan air : rindu merindukopi dan gula : rindu merindukota dan warga : rindu merindukaki dan sepatu : rindu merindugaram dan asam : rindu merinduflora dan fauna : rindu merindudipan dan kasur : rindu merindukain dan kapas : rindu merindukekasih dan Kekasih : rindu merinduinsan dan Tuhan : rindu merindu(1986 / Suara Muhammadiyah, No 8 Th. Ke-66 , April II-1986)
Saturday, May 24, 2014
Biografi Dinullah Rayes
0 komentar Saturday, May 24, 2014 Diposting oleh kumpulankaryapuisi
Biografi Dinullah Rayes
Dinullah Rayes lahir tahun 1937 di desa Kalabeso Kec. Alas, Kab. Sumbawa, NTB. Ia pernah bertugas sebagai guru SD beberapa tahun 1956—1965. Kemudian beralih tugas ke Kabin Kebudayaan Kab. Sumbawa di Sambawa Besar untuk selanjutnya dipercayakan sebagai Kasi Kebudayaan Kandep Dikbud Kab.Sumbawa. Aktif menulis sejak tahun 1956. Selain menulis puisi juga menulis cerpen, esei, naskah drama, artikel kesenian/kebudayaan.Tulisannya tersebar di media massa: Abadi, Pelita, Suara Karya, Panji Masyarakat, Salemba, Tifa Sastra, Seloka, Sarinah, Suara Muhamadiyah, Harmonis, Amanah, Sinar Harapan, Forum, Tribun, Swadesi, Republika, Bali Post, Nusa Tenggara, Suara Nusa, Dewan Sastra Malasyia.Karya-karyanya tekumpul dalam : Anak Kecil Bunga Rumputan dan Capung Ramping (Mega Putih Sumbawa, 1975), Hari Ulang Tahun (Sanggar Mayang, Mataram 1980), Kristal-Kristal (bersama Diah Hadaning, Pustaka dan Penerbit Swadesi, Jakarta, 1982), Pendopo Taman Siswa (Sebuah Episode, bersama 28 penyair Indonesia: Sema FKSS Sarjanawiyata Taman Siswa, Yogyakarta, 1982), Puisi ASEAN (Bersama 39 penyair, Yayasan Sanggar Seniman Muda Denpasar 1983), Angin Senja (bersama 3 penyair NTB, PW HSBI, NTB, Mataram, 1983), Nyanyian Kecil (Pusat Dokumentasi Sastra Korrie Layuan Rampan, Jakarta, 1985), Peta Lintas Batas (bersama Sunaryono Basuki KS dan Hariman, Sanggar Bukit Manis, Bali, 1985), Pendakian (Forum Pengkajian dan Pengembangan Masyarakat Sumbawa, Yogyakarta, 1986), Sosok (bersama 17 penyair Nusa Tenggara Barat, HP3N Mataram, 1986), Seutas Tali Emas (bersama Siti Zainun Ismail, Agus Nurdin, Sulaiman Saleh (BKKNI Propinsi NTB, 1986), Spektrum (bersama 32 penyair Nusa Tenggara, Yayasan Mitra Sastra Mataram, bekerja sama dengan Yayasan Lembaga Kemanusiaan Masyarakat Pedesan (YLKMP) NTB, 1988), Istiglal (bersama 2 penyair NTP, Depdikbud Kabupaten Lombok Barat, 1990), Dari Negeri Poci 2 (Pustaka Sastra, 1994).
Thursday, May 22, 2014
Puisi Bayang-bayang Rebah | Dinullah Rayes
0 komentar Thursday, May 22, 2014 Diposting oleh kumpulankaryapuisiBayang-bayang RebahDinullah RayesSekujur tubuh kotaMencari jati diriDi bangku-bangku terminalDi langit metropolitanBulan sepotong pucat pasiKehabisan darah(Jakarta, Agustus 1995/ dari Negeri Poci 3, 1996)
Puisi Dinding-dinding Jasad | Dinullah Rayes
0 komentar Thursday, May 22, 2014 Diposting oleh kumpulankaryapuisiWednesday, May 21, 2014
Puisi Tentang Malioboro | Dinullah Rayes
0 komentar Wednesday, May 21, 2014 Diposting oleh kumpulankaryapuisiMalioboroCatatan sepintas buat Emha dan LinusDinullah RayesLorong-lorong jalan kotamu gemerlapMalam-malam gagal menitip gelap senyapdi trotowar, emperan tokoAku bersama Bambang Widiatmokomelepas kangen di lahan lesehanselama ini tergadai sang waktuSejak senja kita memecah tabung sunyiSenda gurau, tawa bahak kitaterkadang terhenti getaran tali guitar pengamenyang membalut nasib terlukadalam dandanan jaman berlariDi samping kiri kita ada perempuan mata seribumenawarkan betinanya yang terkoyakpada siapa haus birahi malam gerahDi sebelah kanan kita ada pemuda-pemudamenggelar diskusi seputar radius persMencakar-cakar pengendali negeri berlidah gandaMemaki-maki demonstran asing merobek panji jati diriAh, belakang depan kita gedung-gedung menghadangKita takut melangkah diterkam rahang guritaMalam ini batuk dan kantuk sirnaBulan sepotong itubetapa arif bijaksanamembagi rata cahaya emasbagi pepohonan rindang perkasabuat jemari rerumputan yang kerdil kakuKita bergegas menatap langit hitam pekattiba-tiba dingin mengigitKita pun gemetarmerebut mimpi yang buyar(Yogyakarta, Agustus 1995 / Dari Negeri Poci 3, 1996)
Puisi Kelahiran, Kehadiran di Luar Bandar Melaka | Dinullah Rayes
0 komentar Wednesday, May 21, 2014 Diposting oleh kumpulankaryapuisiKelahiran, Kehadiran di Luar Bandar MelakaDinullah RayesMari kita tamasyake Kampung Sempang, Merlimaudi sini azan awal memecah sunyimenyelinap telinga Tuan Haji Pit Ismailmenghirup sari daunmenyimak langkah-langkah megamenelaah kepak burungmenghirup napas cakrawalaJangan enggan istirahdi Kampung Bertam Malimranah ini tangis pertama menggetar lidahDatuk Haji Mohamad bin Haji Abd. Rahmanmenikmati sentuhan gugur daunanmeraba bayangan rebahmembaca sunyi sembunyidi balik lembaran puisi alamKita singgah melemaskan sarafdi Kampung Kuala Sungai BaruDatuk Borhan bin Md. Yamanmeluncur dari kandungan bundamendengar siul burungmerekam seruling gembalamemanggil angin lembahmenyambut udara tibamembawa sabda sarat rahasiaPengembara muda beliamencuci mata hatidalam Kampung Telok Mastanah kelahiran Haji Abdul Samad bin Kasimmenikmati pantun Melayumenangkap hikayat lamamenguak tradisi leluhurmenopang plapon sejarah akhir zamanHari masih segar ketika sampaidi Kesang Tua, JasinTanah tumpah darah Mohd. Adib Haji Mohd. Adammenatap sayap burung menarikan pucuk pohonandaun kelapa sawit melambai-lambai pengelanamenyegar sukma suara bocah-bocah mengajidara-dara molek merebut rumah Allahresah gelisah bergegas sirnaKaki-kaki turis menapaki bukit hijaudi tepi Kampong Jalan Permatang Serai, MerlimauDi sini lahir Datuk Haji Ahmad Haji Ithningemericik air sungai menghimbaubebungaan mengirim harumikan-ikan gemerlap dalam kolam alammembuka kelopak mata batinduhai!Mari melepas jiwa ragasekujur Semenanjung Melakamenjinak mimpi liar letihdalam gua ranjang batudalam laut ranjang karangdalam kabut dipan awanmenyemai damai hati insaninyanyian surga mengalunkita pun pesona baqa(Kuala Lumpur- Melaka 2000: Perisa, Jurnal Puisi Melayu-Malaysia 2000)
Puisi Brang Bulaeng | Dinullah Rayes
0 komentar Wednesday, May 21, 2014 Diposting oleh kumpulankaryapuisiBrang BulaengBagi PT. Newmont Nusa TenggaraDinullah RayesDari hulu pedalaman SumbawaMengalir, menghilir Brang BulaengHarapan anak negeri segera mereguk air jernih beningMenyirna dahaga deraan kemarau panjangTapi orang asing itu merampas cawan dari tangan kerdil keringLalu anak negeri memandang kening langit muatan mendung hitamBatu-batu bisu di lubuk kalbunya yang buramAneh!Tiba-tiba Brang Bulaeng jelma telaga es mengemasTapi kita dihalau bagai kucing kurap kurusDilarang menyauk apalagi mandi di tepinyaDi sini kita merasa asing dan sepiDi kampung halaman sendiriAneh!Air Brang Bulaeng membeku warna kuning gadingJelma pilar-pilar bangunan negeri surgaAnak negeri merekah senyum bersama rembulanTiba-tiba dirampok tangan-tangan putih benua jauhDirebut tangan-tangan sawo matang seberang lautanAnak negeri pun jelma daun-daun dikerumus ulatSemakin ganas begitu nekatAneh tak aneh saudarakuSumbawa bersukma lebahJati diri, harga diri kitaHaram tergadai jemari guritaYang mengukir bunga kata-kataDari lidah hati sarat arogansi(1999, Kilas, No. 32 tahun I, 2-8 Desember 1999)Nb. Brang Bulaeng = sungai emas
Puisi Reuni | Dinullah Rayes
0 komentar Wednesday, May 21, 2014 Diposting oleh kumpulankaryapuisiReuniDinullah Rayesdalam ruang gelap senyapsiapa pula yang bersandarpada dinding angin. menjilati cairangula enau. matahari terpelai dedaunantiada terhitung dengus nafas dalamtemaram. menyentuh rumpun bungarahasia saling pandang lalu berjalanberbimbingan tangan angan. dari balik daunpintu jelaga terdengar suara ketukanpelan-pelan kemudian nyaringlalu mendaki lereng malam dan tibapada titik puncak lalu menurunini sebuah irama hidup, katamutetapi mengapa kau tetap diam menunggu?tak menyapa siapa. di sini suara bicaradalam isyarat. di luar tak ada sosok misterimenunggumu lagi. angin mengendap sepi menyergapsegalam melebur dalam gua gelapberbaur bayang Maha Misteri. barisan rohmenunggu aba-aba akhir-Mu(Simponi, 17-5-1987)
Saturday, May 3, 2014
Sajak Musim Kemarau | Dinullah Rayes
0 komentar Saturday, May 03, 2014 Diposting oleh kumpulankaryapuisiSajak Musim KemarauDinullah RayesAkar-akar pepohonan di hutanakar-akar semak belukar di tepi dusunakar-akar bunga di halaman depanakar-akar perdu di belakang rumah warisanMulut-mulut yang menganga mohon secawan air hujanbasahi kerongkongan kering gersangPucuk-pucuk daun pun merunduk, sembah sujud satu tujuanDari gumpalan awan hitam, Tuhan menempa jutaantempayan“KUN”Air pun tercurah dari kerajaan langitBulu-bulu akar rambatkan puji syukursepanjang jalan kehidupanMenyentuh lahan hatikumenguap bau harum surgawi di tanah lahirAlangkah mesranya cinta yang diukirjemari tangan-Nya.(Suara Muhammadiyah No. 7 Th 67 / April I 87)
Puisi Pesan Seorang Residivis pada Kekasihnya | Dinullah Rayes
0 komentar Saturday, May 03, 2014 Diposting oleh kumpulankaryapuisiPesan Seorang Residivis pada KekasihnyaDinullah RayesBangku-bangku panjang melingkarberdesakan bayangan dalam resahmenyimak benturan kata-katasejenak lagi namaku terdengarlima aksara luluh dalam riak waktu.“Tinggallah engkau di sini: sayangnasib yang sepi kugenggamsampai nisan tak bertandatiada menyapa siapa.harap kau catatpagi ini jarum detik jantungkuterasa begitu laju.”(Puisi Majalah Sastra, No. 1 Th. 1 Nopember 2000)
Wednesday, April 23, 2014
Puisi Pendek tentang "Jakarta" | Dinullah Rayes
0 komentar Wednesday, April 23, 2014 Diposting oleh kumpulankaryapuisiJakartaDinullah RayesPucuk menarakembang apitelapak kakisepi(majalah Horison, Pebruari 1976 Th. XI)
Tuesday, April 22, 2014
Puisi Aku dan Bayangan | Dinullah Rayes
0 komentar Tuesday, April 22, 2014 Diposting oleh kumpulankaryapuisiAku dan BayanganDinullah RayesMenggores aksarasaat sumpah setia. Atas namaadam dan hawa.Kulit pohon palma initerbaca wajah zamanpelepah daun yang luruhharapan-harapan yang mengubur diri.Kembali malam iniaku dan bayangan di bawah bulan tuamelepas angan memburu wajahmuyang pergitiada kembali lagi.Doa berkendara kereta langitTuhan!warnai hidupku selalupancarkan nur-Mu dalam hatikukelam berdebu(Puisi-puisi/Pertemuan Sastrawan 1974)
Sunday, April 20, 2014
Puisi Gunung Tambora | Dinullah Rayes
0 komentar Sunday, April 20, 2014 Diposting oleh kumpulankaryapuisiGunung TamboraDinullah RayesGunung Tamboramenyundul langit biru SumbawaPagi hari mentari mengirim sinarMenerpa wajah hijau berseriSore hari terpateriCahaya layung rampingKening gunung menjulangmenyimpan misterimemendam materiAir bening mengularmembelit tumit bukitmenuruhi lahan sawahMengalun kesuburanMembuka kelopak senyum warga dusunDamai pun menyemaiDi mana-manaSuara Muhammadiyah, No. 14/75/1990
Subscribe to:
Posts (Atom)

