Showing posts with label M Husseyn Umar. Show all posts
Showing posts with label M Husseyn Umar. Show all posts

Monday, June 21, 2010

MEMORARIA II - M Husseyn Umar

0 komentar

MEMORARIA II
M. Husseyn Umar

Hari-hari telah bersatu di dalam mimpi
yang sekali-kali akan kembali berganti warna

maka
jika tanggal-tanggal bertanggalan
dan hari-hari pergi bersama sunyi
bagai daun berguguran di musim semi
maka
artinya adalah permulaan semua hari
yang tiada akhir
dan tiada sepi

tiada pena yang sanggup untuk mencatat
tatkala dua manusia hanyut dipacu mimpi
didekap malam yang hangat
terdampar lunglai di akhir pagi
dalam mencari tiada henti

1978


Kumpulan sajak M. Husseyn Umar (Perjalanan)


MEMORARIA I - M Husseyn Umar

0 komentar

MEMORARIA I
M. Husseyn Umar

Benih telah tertanam di taman ini
Gunung indah melingkar di dadanya
Pantai berombak melandai di pangkuannya

Inilah perjalanan dan persinggahan kami
Seolah dunia di genggaman kami
Bulan purnama tersenyum di atasnya

Kuda telah kami lepaskan dari kekangnya
Kami berpacu ke padang-padang
Matahari terik menantang melihatnya

Ya, inilah langkah awal segala harapan
Telah tertanam di situ impian yang tiada batasnya

1978

Kumpulan sajak M. Husseyn Umar (Perjalanan)


Friday, April 23, 2010

Kepada pemain Tai-chi

0 komentar

Kepada pemain Tai-chi
- Play me a set of Tai-Chi -

Di bawah bayang-bayang fajar temaram
sosok-sosok bayangan itu bergerak
gemulai, perlahan, lembut dan halus
seperti peri-peri yang sedang menari-nari di celah-celah awan

Apakah yang sebenarnya sedang kau lakukan,
hai para pemain Tai-Chi
gerakanmu sekali ke kiri, sekali ke kanan
kakimu sekali naik seolah menendang angkasa
tanganmu bagai menopang bola dunia
kemudian melangkah bagai mengirai surai kuda
atau membelai ekor burung
yang seolah akan terbang lepas dari tanganmu
kemudian engkau berdiri di satu kaki
seperti ayam jantan gagah berkokok
atau bagai seekor angsa yang mengepakkan sayap
atau ular menjalar yang turun merayap

Adalah alunan napasmu yang halus dan dalam
yang mengendalikan semua itu
yang ditarik dan dihembuskan
dari pusat segala yang ada dan tiada
sehingga prana, napas kehidupan
merasuk dan mengaliri seluruh fisik dan alam bathin
yang menyatu dalam jagat tubuh dan alam sekeliling

Apakah makna segenap kesinambungan dan keluwesan itu
Jika bukan menggambarkan
kehidupan yang timbul dan tenggelam
mundur dan maju
dalam mencari dan menemukan:
titik-titik keseimbangan di jagat kehidupan?


1994


Pemandangan di Que-Lin | Puisi Pemandangan Alam

0 komentar

Pemandangan di Que-Lin
M. Husseyn Umar

gunung-gunung dan bukit-bukit hitam
tinggi dan tajam
menjulang menusuk-nusuk awan

air sungai Li berkelok-kelok
bermain-main di celah kaki-kakinya

bilakah sebenarnya
dewa-dewa telah turun dari langit
sempat-sempatnya membuat
pahatan alam yang begini cantik!

1994


k.m. Latuharhary | Puisi Kapal Laut Berbendera Indonesia

0 komentar

k.m. Latuharhary
-Kapal berbendera Indonesia

M. Husseyn Umar

di atas geladak
sang nakhoda berdiri gagah

ia ramah dan bangga menjadi tuan rumah
di kapal berbendera Indonesia

ia menerima tamu-tamu dari daratan
angin musim panas menyeruak masuk ke ruang salon
yang hangat dan akrab

kapal itu baru saja memasuki pelabuhan Rotterdam
dari Le Havre dan Antwerpen
dan sebentar lagi akan bertolak menuju Hamburg dan Bremen
dari perjalanan jauh di nusantara dengan muatan yang penuh
ia telah membongkar dan mengangkat sauh berkali-kali
di celah-celah perjalanan panjang dengan ombak dan badai
mempertemukan benua-benua yang saling berjauhan

sambil bersulang sang nakhoda berkata:

"Tuan-tuan dan nyonya-nyonya
bendera dan muatan kapal ini
adalah harga, pengertian dan persahabatan yang kami bawa-"

1974


Demonstrasi setengah hati | Puisi Bertema Demontrasi

0 komentar

Demonstrasi setengah hati
M. Husseyn Umar

setiap kali mereka berbaris membawa poster-poster itu

mereka sebenarnya tidak tahu
mengapa mereka berada di bumi yang kelu itu
tidak mengerti opa, oma, tante-tante dan oom-oom maunya apa

dari wajah-wajahnya tersirat
mimpi kehidupan di tanah tumpah darah
"kitong sudah terlalu cape untuk bermimpi
kapan kitong bisa kembali ke negeri manisee
bisa kumpul sanak saudara
makan sagu dan petita
tidak lagi cuma makan keju dan mentega -"

setiap kali mereka muncul
berbondong-bondong di tanah yang kelu itu,
mimpi dari tahun ke tahun
yang semakin lama kehilangan gaung -


1973


Zandvoort

0 komentar

Zandvoort
M. Husseyn Umar

matahari musim panas
sejak pagi sekali telah singgah di muka rumahku
di Heemsteedse Dreef di Haarlem,
rumput-rumput liar telah menjadi pirang di pekarangan
dan di belakang rumah
pepohonan apel yang kecil
tumbuh semakin kerdil -

Zizi, Nana, Meli dan Adhit
memegang sekop dan ember plastik
menuntut: papa, kapan kita piknik
semua orang-orang itu bukankah pergi ke pantai?

jalan menuju Zandvoort
yang melintas depan rumahku
sejak pagi memang telah macet
dengan warna-warni kendaraan dan orang-orang
yang semakin kegerahan

di pantai anak-anakku
mengorek-ngorek dan membuat rumah-rumahan di atas pasir
yang setiap kali lenyap di hapus ombak
tapi apakah yang mereka kemudian bisa perbuat
jika di sekelilingnya berlalu lalang berdesak-desak
tubuh-tubuh menor dan dada telanjang
untuk bermain pun seolah-olah tidak ada lagi tempat


1970


Keberangkatan | Puisi Tentang Suatu Perjalanan

0 komentar

Keberangkatan
M. Husseyn Umar

-A man in exile

pada hari itu
ia bertolak ke tempat tugasnya yang baru

ia berpikir: adakah ini suatu
perjalanan yang penuh hikmah
ataukah perjalanan yang menyimpang
dari perspektif dan obsesi
dan pengkhianatan atas dedikasi dan motivasi
yang telah dilakukan selama ini?

ia tahu ia memang harus pergi
menyingkir dari berbagai kontradiksi
angin musim gugur menyambutnya di bandara
negeri asing yang akan ia tinggali

ia merasa asing dan terusir
dari negeri yang makin ia cintai -


1969

Persimpangan | Puisi Lama 1966 Tentang Persimpangan

0 komentar

Persimpangan
M. Husseyn Umar

Tibalah aku kini di suatu batas untuk bertolak
meninggalkan dermaga, gedung-gedung,
kemudian gunung yang membisu di belakangnya
karena di mukaku telah tertambat kapal
yang segera akan berangkat

Tibalah aku kini di suatu persimpangan
antara kenangan yang indah
yang sebentar akan tersamar
dan membaur ke dalam jarak yang lenyap

Tibalah aku kini di suatu persilangan
antara kasih kini dan sayang yang akan ditinggalkan
masa lalu yang terbawa
masa depan yang belum terbayang


1966


Permintaan pada penyair

0 komentar

Permintaan pada penyair
M. Husseyn Umar

Mengapa begitu, penyair
Apa memang sering begitu pada lagu-lagumu?
Selalu aku teringat pada hari-hari yang bagus itu
Musim kering tak menitikkan air sepatah pun
Kemijap lembu-lembu kurus
Di atas tilam-tilam rumput kehausan
Di jalanan kecil yang mengelok-ngelok dengan asyiknya
Ke telaga pemandian dara-dara jelita
Perempuan-perempuan mencuci di batu berjompakan
Meraba-raba kerikil tenggelam di dalam
Kecimpung riuh membusa

Kutemu satu lirik yang tak mudah terlupakan
Sampai-sampai kerkejap penghabisan malam
Kutemui juga di piring dan mangkuk makanku
Mendamba mesra menyerahkan pandangan sepuas mata
Aku layu-layu mau; lenggang kemuning langsat
Antara daunan rindang mempercepat langkah
Dengan bondongan cucian di pelukan
Serta bungaan di rambut pirang girang tergantung

Mata yang teriak mulut yang menangis
Memintaku semua jangan mengganggu
Amboi, aku tak mengganggu dia menggangguku mesra
Bayangan kasih yang mau berpaut
Antara aku dan dia
Kami tiada kenal mengenali
Telaga kukenali batu menjompak selalu kukunjungi
Ah, aku tak gentar makian air mengalir tenang
Cacian kayuan hanyut dari pinggir ke pinggir
Lingkaran angin berbuai

Penyair, adakah hakku mendakwa padanya
'Kan kuhadapkan ke sidang pengadilan
Tolakkan ke altar majelis terpaku
Kutuduh dia sebagai pencuri
Minatku memaku padanya selalu
Kuangkat daunan dan hijau-hijauan di tepi telaga
Menjadi saksiku yang kuharap mau membela

Ah, aku mau mengejar dia, bolehkah begitu, penyair
Aku selalu teringat akan hari-hari itu
Memang begitukah sering-sering dalam lagumu
Buatkan aku setangkai
Biar tak jauh kenangan kembaliku bisa menemuiku

1949


Asap pabrik | Puisi Tentang Asap Pabrik

0 komentar

Asap pabrik
M. Husseyn Umar

Peluit benteng berdebu pada malam
dan panggilan menuntut
Antara cerobong dengan cerobong
deru dengan deru.

bersama mengikat kenang asap menjolak.

Tuan, riang bola malam
dan tiang siang menyiangi pasukan
Dalam begini, mereka sekali terendam
tak tau pulang.

asap pabrik mengepul naik menghisap

Dan sekalian kerangka, tubuh
terisap layu bersama pekat asap penderu.

1949


Moment sentimentalia | Kumpulan Puisi Lama

0 komentar

Moment sentimentalia
M. Husseyn Umar

Sabbat! Ingat mega berlari
di lengkung pipimu mendesah
dan di sini dari stupa kaki langit

Kurenggut kenang gemawan.

Tapi sendiri kau berlalu
pergi, dirilah gelombang senja alum tak kuraih.
Sendiri kau bawa kembali lenggangmu lalu

Dan aku -
aku berteman kehilangan wajah dan
harummu ditelan angin, jauh.


1949


Biografi M. Husseyn Umar

0 komentar

M. Husseyn Umar, lahir di Medan 21 Januari 1931, lulusan FHUI (1957). Pada tahun limapuluhan, tulisan-tulisannya berupa puisi, cerpen dan ulasan sastera termuat antara lain dalam majalah-majalah Mimbar Indonesia, SiasabGelanggang, Gema, Pujangga Baru, Indonesia, Zenith, Kisah, Roman. Juga menulis beberapa sandiwara-radio yang disiarkan RRI Jakarta. Puisi-puisinya juga dimuat dalam Suara Pembaruan Minggudan Majalah Horison.

Pernah menjadi Anggota Redaksi Majalah Mahasiswa (UI), Forum, dan Pemimpin Redaksi Majalah Roman. Lama bertugas di lingkungan Departemen Perhubungan, antara lain sebagai Direktur Utama PT PELNI. Saat ini ia aktif sebagai Anggota Dewan Pendiri Yayasan Pusat Dokumentasi Sastera H. B. Jassin.
Selain Lereng, Perjalanan dan Refleksi (kumpulan puisi), telah terbit Selendang Merah (kumpulan cerpen) dan akan terbit Semangat Bushido (novelette).
Akhir-akhir ini lebih banyak menulis karangan mengenai masalah masalah hukum dan pelayaran/maritim.

 

kumpulan karya Puisi | Copyright 2010 - 2016 Kumpulan Karya Puisi |