Showing posts with label Wina SW1. Show all posts
Showing posts with label Wina SW1. Show all posts

Friday, May 7, 2010

SEANDAINYA BOLEH KU TAWAR

0 komentar

Wina. SW1

Seandainya boleh kutawar
Akan kubeli dunia
Kulukis wajah tanah kelahiran di tiap sudutnya
Di mana suara angin mendo-da-i-di-kan-ku*)
Gunung-gunung perkasa menjaga lelapku
Laut dan pantai berpasir putih menghiasi mimpiku

Seandainya boleh kutawar
Akan ku ubah dunia
Kualirkan krueng Aceh mengitarinya
Kuhadirkan lelaki-lelaki penabuh rapa’i*)
Mengoyak sepi
Kubiarkan anak-anak berkaki telanjang
Berkejaran waktu
Dan perempuan-perempuan berkerudung sarung
Yang tak hentinya bersujud dan mengagungkan Allah

Seandainya boleh kutawar
Akan kupentaskan beribu hikayat
Antara keperkasaan malahayati*), tjoet nyak dien, teuku umar
dan berjuta tubuh yang berbaring menjaga tanah ini
(duniapun terpana)
tapi sebelum sempat kutawar
Tuhan telah menawar hidupku
“cukup sampai di sini!”
duniapun terbahak, semakin erat menghimpitku

Agustus, 1988

*) rapa’I adalah music perkusi tradisional Aceh
*) seorang wanita yang memimpin armada laut kerajaan Aceh tempo dulu, berlevel laksamana



PERCAKAPAN

0 komentar

Wina. SW1

(seperti juga pembicaraan kita tempo hari, Tuhan
tidak ada salahnya kalau aku memulai
karena toh kau memang lebih suka diam
membiarkan aku terus mengobral kata
dan mengadilinya diam-diam

terkadang aku jadi ragu
apakah diam juga kata
apakah diam cukup jadi jawaban
ataukah diam adalah diam
yang punya satu makna
“hukuman buat sang pengadu”
entahlah,

diamMu atau riuhku adalah percakapan kita
setiap waktu yang tercatat)

Tuhan (kalau masih boleh aku terus menyapaMU seperti itu)
kali ini aku tidak punya banyak kisah
cukup satu pertanyaan,
“mengapa kau biarkan mereka
mengotori tanahMu dan nafasku
dengan lukisan bertinta merah hitam
yang mereka beli dari setan?”

(dan kuharap kali ini
kita tidak bicara dalam diamMU
sambil menatap mereka melelangnya di kaki lima
kepada para kolektor atas namaMu”
dan memasang wajah tidak bersalah
ketika kau menyapanya
karena diam dan kata-kata pun
bukan lagi sebuah percakapan buat mereka)

Beurawe, 1988



DARUSSALAM*)

0 komentar

Wina. SW1

Masih ada seulawah*) yang kadang tegak
Dan kadang bersembunyi di antara awan
Juga masih ada krueng Aceh*) dengan riaknya
Hanya wajah telah sedikit terpoles

Disana,
tetesan keringat masih mengalir
Bersama bait-bait doa
Di antara langkah-langkah
Yang bergulat harap
Mengubah aksara menjadi masa depan

Rasanya,
Masih terdengar suara
Syech Abdurrauf*) dengan kata-kata panjangnya
Atau Majid Ibrahim*) dengan tatapnya
Gemeretak tulang para ayah di sawahnya
Untuk sebuah esok

Januari, 1991

*) kawasan kampus Universitas Syiah Kuala Banda Aceh
*) nama gunung
*) sungai
*) ulama dan pujangga besar Aceh
*) tokoh pendidik dan mantan gubernur Aceh




TENTANG “T”

0 komentar

Wina. SW1

Dia pernah minta aku mencuri bulan
Buat menghiasi malamnya
Dia juga pernah minta aku mengikat waktu
Agar hari tetap pagi
Dan sekarang,
Dia ingin aku mencuri matahari
Buat menghiasi dadanya

Jantho, Desember 1988

Puisi Kosong | Wina SW1

0 komentar

Kosong
Wina. SW1

telah kau menangkan waktu dari petaka
yang menantangmu pagi itu
Sang Khalik kembalikan sisa usia
dan, kau sesali takdir itu

telah Ia hembuskan hidup dan esok
agar kau terus melangkah
dan tahu memaknai hidup
tapi kau tepiskan anugerah itu

karena luka yang terus kau biarkan menganga
sepi menikam merantaimu
kehilangan merasuki urat nadimu
beban dan duka menghantui langkahmu

karena
ketidakrelaan melepas yang Ia titipkan sesaat padamu

tatap matamu tanpa cahaya
rindukan kemarin ada di sini
mimpikan mereka melangkah bersama

suaramu terbenam dalam putaran hari
mereka telah membawa pergi kata-kata
dan tawa milikmu

kau ciptakan batas, menepis bahagia
yang Ia kirimkan buatmu
sampai kapan kau biarkan
amarah merajai hatimu
suram memenjarakan harimu
nelangsa mematikan hidupmu
ketidakrelaan merenggut semua mimpi
dan cintaNya padamu

tanpa sadar, kau hakimi Ia
padahal Ia telah menganugerahkan yang tak ternilai bagimu
: sebuah kesempatan

Kyoto, 14 Januari 2005

RINDU | Puisi Puisi Rindu

0 komentar

RINDU
Wina. SW1

air menyentuh tiang-tiang titi
orang-orang berlari melintas sungai
aku duduk dalam hening
meneguk maccha terakhir
: mimpikan percakapan tak pernah berakhir

Kamogawa, 10 Januari 2005

PERADUAN PUTIH

0 komentar

Wina. SW1

selimut berajut doa dan kenangan
akan menghangati tidurmu
mimpi-mimpi yang tercecer
akan mengaliri darahku
: aku masih punya pagi dan matahari

Obaku, 6 Januari 2005



EPILOG BULAN | Puisi Tentang Bulan

0 komentar

EPILOG BULAN
Wina. SW1

bulan, matahari, angin di atas satu meja
percakapan tanpa kata:

lautku,
izinkan kuterima tanda cintamu

Kyoto-Japan, 5 Januari 2005

AKHIRMU | Puisi Wina SW1

0 komentar

AKHIRMU
Wina. SW1

laut mengantar pinangan
tanpa jeunamee*) dan idang meulapeh*)
maka menikahlah engkau dengan keabadian

Kyoto, 12 Januari 2005

*) jeunamee adalah emas kawin
*) idang meulapeh adalah hidangan (makanan) special (utama) dalam acara perkawinan di Aceh, juga acara maulid nabi Muhammad SAW.

BIOGRAFI - WINA. SW1

0 komentar

Dilahirkan di Banda Aceh, 20 Februari 1969. Penyair yang juga saintis ini, selain menulis, gadis ini juga suka fotografi, membaca puisi, berteater, menata tari dan meneliti. “Hidup ini singkat, maka penuhilah setiap waktunya dengan makna, sehingga sejarah mencatat kita pernah ada, dan hidup punya arti” kata staf pengajar Fakultas Teknik Universitas Syiah Kuala Banda Aceh,yang kesehariannya selalu dipenuhi berbagai kesibukan. Karya cerpen dan puisinya pernah di muat di berbagai media cetak juga dalam berbagai Antologi bersama. Belakangan ini, mantan jurnalis Majalah Tiara (Gramedia Group, Jakarta), malah merambah negeri Sakura Jepang dengan membacakan puisi-puisinya dan menarikan tari gubahannya dalam berbagai kegiatan budaya. Hal ini dilakukan di sela-sela waktunya menyelesaikan program S3 dalam bidang applied life sciences di Kyoto University. “ Saya ingin memperkenalkan Aceh pada dunia! Saya ingin membagi apa yang saya rasakan lewat kata,” Dmeikian ungkap gadis energik ini lewat SMS nya yang tak lagi pendek dari Kyoto ke penyusun di Banda Aceh.

 

kumpulan karya Puisi | Copyright 2010 - 2016 Kumpulan Karya Puisi |