Showing posts with label Fitri Nurhayati. Show all posts
Showing posts with label Fitri Nurhayati. Show all posts

Friday, November 9, 2012

Puisi Wanitaku | Fitri Nurhayati

0 komentar



Wanitaku
Fitri Nurhayati

Sepantas apakah aku bandingkan keindahanmu, wanitaku
Dengan senja samar, melukiskan senyum yang begitu menggoda
Dengan angin sepoi, meniupkan belaian yang begitu mesra
Atau dengan fajar pagi, menghangatkan jiwa yang begitu bening

Engkau hawa yang berbatang ara
Malam ini ia temukan daratan dalam dadamu
Tak dapat ia tahan jemari yang kian membuatmu terlena
Tanpa ada rayuan yang harus disenandungkan
Karena itulah sumber penghidupanmu

Aduhai wanitaku
Dalam kesederhanaan roman yang begitu tenang
Aku temukan ada gejolak batin yang sesungguhnya tidak engkau inginkan
Aku dengar bahwa malam ini adalah pilihan

Agar engkau dapat menunaikan mimpimu yang belum tuntas
Agar engkau dapat bertahan dengan nanar yang begitu kejam
Karena senja belum menghampiri
Maka aku tak mampu menjadikanmu
Sebagai hawa yang dirindukan banyak bintang

Mungkin engkau sudah tidak ingin menjadi pelayan jalang
Apapun engkau, tetaplah menjadi wanitaku
Mentari yang akan dirindukan untuk menjadi penerang dunia
Meskipun malam ini begitu suram

Purwokerto, 02 Februari 2012
www.kompasiana.com/www.nurhayatipipit.com

Puisi Lebah Jantan | Fitri Nurhayati

0 komentar



Lebah Jantan
Fitri Nurhayati

Wangi parfumku masih tertinggal pada puncak yang nakal
Membakar asa, memantik lebah jantan pada lidahnya yang manis
Melepas haus setelah menyeruput madu dari denyut jantungnya

Aku ingat pesan sang kekasih, bahwa aku bukanlah bunga jalang
Bahwa aku bukanlah awan mendung yang mendatangkan hujan
Tapi aku adalah secercah cahaya yang akan menyinari dunia

Aku menikmati musim yang penuh dengan pendosa
Bahkan tuhan membiarkanku luput untuk sebentar
Agar aku dapat menari bebas di pelataran surga

Namun, di bawah senja tua aku mendengar seruan, tautan
Bahwa jalanku bukan jalan yang aku lewati sekarang
Bahwa lembarku bukanlah lembaran yang aku tulis sekarang

Adakah titah tuhan yang memanggil?
Ataukah hanya seruan umat yang mengucil?
Perjalanan ini tak selesai karena aku tak mampu menyelesaikannya

Sedang aku bergegas meninggalkan lebah di teras senja
Engkau malah melucutiku dengan cambuk besi
Aku ragu dengan jawaban sebelumnya
Bahwa engkau tak dapat menerimaku yang sudah mabuk meneguk madu

Aku ingin kembali, sebelum serbuk bunga menabur diatas kerendaku
Karena aku sama dengan engkau
Yang tetap jua saling melilit, sebagaimana alam yang begitu kejam.


Purwokerto, 02 Februari 2012
www.kompasiana.com/www.nurhayatipipit.com

 

kumpulan karya Puisi | Copyright 2010 - 2016 Kumpulan Karya Puisi |