Mengenangmu R.A. KartiniSri Ayudha MujiyantiDengan kesederhanaanku aku mengingatKesederhanaanmu, Kepolosan, dan ketenanganmuTentang betapa perempuan IndonesiaSedang berharap pada hari depanDengan kebodohanku aku mengingatSebaris judul bukumuYang tidak pernah tuntas aku membacanyaSiapakah gerangan dia?Yang rajin mengumpulkan lembar demi lembarSurat cintamu untuk perempuan IndonesiaHingga sampai padakuDengan ambisi aku mencari pembelaanDisetiap kisah-kisahmuAkukah cita -citamu ?Pahit, getir dan serakahnya merekaMenghabiskan tak bersisa, harapan-harapanku IbuAku bukan cita-citamuDengan rasa ketidakadilanAku meresapi lagu yang kau dendangkanSaat menggendong bayi-bayi perempuan mungilApakah terbayang olehmuKelak mereka menari, menyanyi, dan membaca?Ibu, aku tak ingin menari dalam kacaunya politikMenyanyi dalam terpuruknya nilai uang kitaHabisnya emas, gas, batu bara dan minyak bumi kitaIbu, aku membaca betapa suram hari depan anak-anakku.17-Apr-2012www.kabarindonesia.com
Showing posts with label Puisi Pahlawan. Show all posts
Showing posts with label Puisi Pahlawan. Show all posts
Tuesday, December 11, 2012
Puisi Mengenangmu R.A. Kartini | Sri Ayudha Mujiyanti
1 komentar Tuesday, December 11, 2012 Diposting oleh kumpulankaryapuisiMonday, February 27, 2012
Puisi Dialah Sejatinya Pahlawan | Ajinatha
0 komentar Monday, February 27, 2012 Diposting oleh kumpulankaryapuisiDialah Sejatinya Pahlawan
Ajinatha
Dialah Pahlawan yang membagikan separuh hatinya untuk pengabdian
bagi bangsa dan negaranya,
dan separuhnya dia sisakan pada rentang waktu menyusuri alam keabadian.
Tidaklah satu manusia pun yang mengabdikan sepenuh hatinya
pada yang namanya keikhlasan,
ikhlas hanyalah sebatas jiwa dan raga,
itulah sejatinya pengabdian.
keikhlasan dalam pengabdian hanya layak dilakukan kepada yang maha kuasa.
….
Dialah Pahlawan yang mendahulukan
kepentingan untuk kemaslahatan diatas kepentingan pribadinya,
yang menginspirasi banyak orang untuk berbuat sesuatu demi kepentingan bersama,
yang setiap aliran darahnya mengalir butir-butir keringat dan semangat berjuang,
tidak mengenal rasa takut selama dalam garis kebenaran,
dan berjuang demi kemenangan kebenaran.
……
Dialah Pahlawan yang tidak pernah merasa berjasa atas apa pun
yang mengikhlaskan keringan dan darahnya tumpah
tanpa pernah mengharap belas dan balasan upah
semata karena pengabdian juga ketulusan
atas nama perjuangan dan kebersamaan
…….
dan itu siapa pun dia bisa..
tidaklah diukur dari derajat dan pangkat
dan tidak juga apakah dia orang terhormat
yang diukur hanya ketulusan dan niat..
Jakarta, 7 Nopember 2011
sumber : fiksi.kompasiana.com
Friday, May 6, 2011
Puisi Pahlawan Sejati | Restoe Prawironegoro Ibrahim
0 komentar Friday, May 06, 2011 Diposting oleh kumpulankaryapuisiPAHLAWAN SEJATI
Restoe Prawironegoro Ibrahim
Ibu termenung lagi,
Sejak kejadian di pengadilan tempo hari
Ayah kini seorang napi,
Tapi di hati ibu ayah pahlawan sejati
Tiap saat kuberdoa kepada Tuhan
Doaku hanya untuk ayahku
Semoga doaku menembus Terali besi yang mengurungnya
Hanya panjatan doa yang bisa kulakukan
Hingga terasa mulutku lelah
Ayahku yang kucinta, semoga cepat pulang
Jakarta, 15 Juni 2009
Sunday, March 27, 2011
Puisi Mengenang Pahlawan | Agustus Karya Mansur Samin
0 komentar Sunday, March 27, 2011 Diposting oleh kumpulankaryapuisiAGUSTUS
Mansur Samin
Berdirilah hening dalam kehampaan malam
jiwa siapa yang patut dikenang
hitung dari mula
kerna letak kejadian indah
adalah hadirnya upcara duka
membangun kepercayaan teguh
Apakah mereka dengan kita bicara
menghitung hari-hari silam kehilangan rupa
atas rumah-rumah di lingkaran gelap
atas anak-anak di ketiadaan harap
dari dulu terduga selalu
Berdrilah hening dalam kehampaan malam
ucapkan lunak kesanggupan yang bimbang
jangan tangisi, jangan hindari kenyataan ini
kerna fajar pagi akan membuka langit letihnya
menyediakan tanya untuk kita saling tidak bicara
Di mendung gerimis Agustus ini
simpanlah risalah lama melantung kedalaman
tentang hari-hari gemilang yang akan datang
tentang akhir-akhir hutang yang tiada pegangan
heningkan di sini, jangan dengan separo hati !
Berdirilah hening dalam kehampaan malam
melupakan cedera kehilangan rupa
tegakkan pula
suatu bentuk baru di hatimu mengorak jauh
suatu pandangan kudus di pilumu diam bergalau
kita pun semua tahu untuk apa mengenang itu.
Mimbar Indonesia,
Th XIV, No. 50
1960
Sajak-sajak Perjuangan dan Nyanyian Tanah Air
Monday, February 21, 2011
Kumpulan Puisi Pahlawan | Ombak Abad Dua Satu
0 komentar Monday, February 21, 2011 Diposting oleh kumpulankaryapuisiOMBAK ABAD DUA SATU
Aspar Paturusi
kualirkan kisah ke dalam gelombang
kutitipkan lewat sejarah abad kami
adakah terpantul pada cahaya permukaan laut
wajah-wajah kakekmu
hidup dalam gelisah sejarah
gelisah zaman bagai dongeng yang tak punya akhir
bertanyalah pada ombak sekitar pulau-pulaumu
ombak kami dulu yang masih memburu pantaimu
selamat pagi, anak muda abad dua satu
aku tak sempat lagi bersamamu
membacakan kisah-kisah lama
1980
Puisi Kepahlawanan | Bambu Runcing
0 komentar Monday, February 21, 2011 Diposting oleh kumpulankaryapuisiBAMBU RUNCING
Aspar Paturusi
surabaya mengukir sejarah
rakyat bangkit melawan
mereka unjuk kekuatan
mereka tersinggung marah
sekutu dengan angkuh
menyuruh mereka menyerah
berbaris menyerahkan senjata
seraya mengangkat tangan
pasukan terlatih dengan senjata canggih
tak kuasa melumpuhkan semangat juang
perlawannan rakyat yang gigih
yang bersatu bahu membahu
mereka rela dan siap mati
untuk harkat kemerdekaan
demi kehormatan bangsa
sekutu yang berpengalaman tempur
memuntahkan segala macam peluru dan bom
ke seluruh penjuru kota
namun rakyat tetap melawan
dengan senjata apa adanya
dengan bambu runcing perjuangan
bambu runcing melawan meriam
bambu runcing melawan tank
bambung runcing melawan keangkuhan
itulah bambu runcing kemerdekaan
bambu runcing cinta tanah air
bambu runcing pengabdian
bambu runcing hati nurani
kini, 64 tahun kemudian
masihkah tergenggam bambu runcing
bambu runcing kebenaran
bambu runcing keadilan
bambu runcing hukum
yang merubuhkan penghianat amanah bangsa
melumpuhkan para maling kekayaan bangsa
ayo, kita raih bambu runcing kembali
yang tak pernah hilang dalam hati nurani
jakarta, 2009
Puisi Tentang Perjuangan | Walau Setetes Darah
0 komentar Monday, February 21, 2011 Diposting oleh kumpulankaryapuisiWALAU SETETES DARAH
Aspar Paturusi
ada setetes darah
terjerembap di jalanan
ada setitik air mata
tersungkur di atas darah
darah ini darah siapa
airmata ini airmata siapa
hanya langit mendung memayunginya
tapi bumi tahu siapa yang empunya
jangan bersedih dedaunan
kicaumu jangan sendu hai burung
darah itu menetes dari roh nurani
butir airmata adalah belaian damai
jangan biarkan darah itu mengering
jangan abaikan titik airmata itu
walau cuma setetes darah dan airmata
dari sini awal kemerdekaan
dikumandangkan
jakarta, agustus 1996
Monday, June 21, 2010
Puisi Tentang Pahlawan Perjuangan | MASIHKAH BUNGA 'KAN MEKAR
0 komentar Monday, June 21, 2010 Diposting oleh kumpulankaryapuisiMASIHKAH BUNGA 'KAN MEKAR
Dadan Dania DK
Langit memerah darah manakala Yogya berpagar sangkur
pagi-pagi empat Mei empat tujuh
fajar memudarkan pijar belulang yang terbakar
kenyataan memanggilmu tampil
insyaf akan tanggung jawab
yakin akan kebenaran Islam
Yoesdi Ghazaii, Anton Timoer, Nursyaf, Ibrahim dkk
menuntunmu bangkit sebagai anak kandung revolusi.
Udara pertama yang kauhirup
wanginya mesiu
atas kerikil dan onak yang terserak
beranjak meniti hari yang bertaji
dada membusung punggung terpampang
menantang cambuk dan dera seterumu
bekalmu semata takwa,
takwa yang membinar jadi syukur
manakala pesona bertahta di beranda sukma
takwa yang berpijar jadi sabar
manakala petaka tersaji di serambi hati.
Bagai debu di garis horison,
tak orang balk-balk berpikir akan ujudmu
bagai punguk di balik awan
tak orang benar-benar mendengar akan cicitmu
Jalur yang terentang putus diranjah mereka
kauluruskan telunjuk dengan gemeletuk gigi
"setapak saja langkah meranjah sela hela
menjamah ranah membentang prana sengketa
gemerlap derapmu kurancap ...
tercapai atau tergapai", itu serumu.
Tekad yang terpahat, tombak mahaampuh meruntuhkan musuh
perisai tangguh menadah pongah punah,
kendati jiwa terpancang atas gelinjang lantang
t'lah kau perketat sekerat ikat.
Kumpulan Sajak Dadan Dania DK "Masihkah Bunga Kan Mekar"
Wednesday, April 21, 2010
DIPONEGORO | Puisi Pahlawan Perjuangan
0 komentar Wednesday, April 21, 2010 Diposting oleh kumpulankaryapuisiDIPONEGORO
Chairil Anwar
Di masa pembangunan ini
tuan hidup kembali
Dan bara kagum menjadi api
Di depan sekali tuan menanti
Tak gentar. Lawan banyaknya seratus kali.
Pedang di kanan, keris di kiri
Berselempang semangat yang tak bisa mati.
MAJU
Ini barisan tak bergenderang-berpalu
Kepercayaan tanda menyerbu.
Sekali berarti
Sudah itu mati.
MAJU
Bagimu Negeri
Menyediakan api.
Punah di atas menghamba
Binasa di atas ditindas
Sesungguhnya jalan ajal baru tercapai
Jika hidup harus merasai
Maju
Serbu
Serang
Terjang
(Februari 1943)
Budaya,
Th III, No. 8
Agustus 1954
Saturday, March 13, 2010
Puisi Pahlawan | Kumpulan Puisi Tentang Pahlawan
1 komentar Saturday, March 13, 2010 Diposting oleh kumpulankaryapuisi
DIPONEGORO
Chairil Anwar
Di masa pembangunan ini
tuan hidup kembali
Dan bara kagum menjadi api
Di depan sekali tuan menanti
Tak gentar. Lawan banyaknya seratus kali.
Pedang di kanan, keris di kiri
Berselempang semangat yang tak bisa mati.
MAJU
Ini barisan tak bergenderang-berpalu
Kepercayaan tanda menyerbu.
Sekali berarti
Sudah itu mati.
MAJU
Bagimu Negeri
Menyediakan api.
Punah di atas menghamba
Binasa di atas ditindas
Sesungguhnya jalan ajal baru tercapai
Jika hidup harus merasai
Maju
Serbu
Serang
Terjang
(Februari 1943)
DONGENG PAHLAWAN
WS Rendra
Pahlawan telah berperang dengan panji-panji
berkuda terbang dan menangkan putri.
Pahlawan kita adalah lembu jantan
melindungi padang dan kaum perempuan.
Pahlawan melangkah dengan baju-baju sutra.
Malam tiba, angin tiba, ia pun tiba.
Adikku lanang, senyumlah bila bangun pagi-pagi
kerna pahlawan telah berkunjung di tiap hati.
Subscribe to:
Posts (Atom)


