sumber gambar : www.tamanismailmarzuki.co.id
Biografi Warih WisatsanaWarih Wisatsana lahir di Cimahi, Jawa Barat 20 April 1965. Sekitar tahun 80-an menetap di Bali dan bergabung dengan Sanggar Minum Kopi (SMK) Bali. Pernah diundang dalam Winternachten Festival di Den Haag, Belanda, serta berkeliling Perancis untuk membaca puisi. Puisinya telah diterjemahkan ke dalam bahasa Belanda, Inggris, dan Perancis oleh Prof. Dr. A Teeuw, Dr Thomas Huntert, dan Dr. Jean Couteau. Pemegang penghargaan Borobudur Award, Bung Hatta Award ini, setelah 20 tahun masa kepenyairan, baru memiliki satu antologi tunggal yaitu buku ini: Ikan Terbang tak Berkawan (2003).
Showing posts with label Warih Wisatsana. Show all posts
Showing posts with label Warih Wisatsana. Show all posts
Thursday, May 22, 2014
Biografi Warih Wisatsana
0 komentar Thursday, May 22, 2014 Diposting oleh kumpulankaryapuisiTuesday, May 13, 2014
Puisi Tukang Jagal Sialan | Warih Wisatsana
0 komentar Tuesday, May 13, 2014 Diposting oleh kumpulankaryapuisiTukang Jagal Sialankepada: W.SWarih WisatsanaTukang jagal sialan, penyu hijauatau kura-kura batudari lubuk teluk mana lagiyang dungu terpikat meja laknatmuDini hari bunyi ngeri tubuh terbelahdan celoteh riuhmu adalah terorDewi teror yang menggedorgedorkamar sempit rumah siput penyairkuYang telinganya tuli karena badai pujianyang matanya kini rabunbertahun terhisap cahaya senyap bulanPenyair lalai 1000 tahun ini, kasihanilah oh puisikasihanilah ia sia-sia mengais remah kataMana sanggup merasakan kulit tipis terkelupasdaging putih suci yang berkilau piluSemalaman seperti penujum yang menunggu ilhamberkali ia menimbangulang bunyi mematutmatut artimabuk tepuk lalu melolong sendirian di depan cerminSakit apakah gerangan, ia resah, demam dirajamlamunan, membayangkan diri sesat jadi lalat hijausekarat hanyut diseret amis darahdikepung lengking parau tukang jagal sialanIa cemas, tibakah kini mautnya; kertas nganga jadi jurangsetiap huruf lenyap segala suara menagih nyawaPadahal ia hanya ingin berkhayal jadi batu bisu yang kekalIa cuma ingin nyaman angankan gaun putri malumaluyang tak pernah mau tahu hiasan indah di rambutnyasepotong tulang pelindung jantung si luguPenghuni kerajaan tenteram dasar lautanSorga kekal yang didamba penyair lalai 1000 tahunmu!1994-1996
Puisi Beberapa Tikungan Lagi ke Bukittinggi | Warih Wisatsana
0 komentar Tuesday, May 13, 2014 Diposting oleh kumpulankaryapuisiBeberapa Tikungan Lagi ke BukittinggiHattaWarih WisatsanaSepanjang jalan pulang, seperti Binuang mudaYang sendiri, aku ingin kekalMenjadi kanak-kanak nakal, jauh dari sesalIngat lagu Mande, bisikmu. Bandar-bandar tuaSekociku oleng dihantam angin sakalKaram di teluk terkucilIngat, Leninggrad, pagar kawat khianatBadai salju berakhir. Aku berbaris, cemasMantel kumalku kelabu meniru abu pada tungkuAku berbaris, memanggul bedil ke perbatasanLunglai bagai buah arbai, berjatuhan di jalanBergulingan diseret angin dingin dari selatanBernyanyi lirih serupa kanak duluDengan senapan kayuMengintai lawan di sebalik perdu:Owai, sepanjang jalan pulang, pucuk-pucuk cubadakBuah-buah jatuh tanpa keluh, membusuk jadi rabukJadi bunga tanjung yang harumnya melintasi gunung!Kawan S tak dikenal, menitipkan selipat surat dan seberkasidentitas. Patriot setengah hati yang akhirnya mati tercekikransel sendiri Pelarian kaum partisan diringkus dini hariDiseret sekarat dan dieksekusi tanpa diadili Jadi arang hutanlindung Jadi puing benteng terkepung Tertulis di dahi simati, manifesto terakhir Perang besar tak akan mungkin lagiberakhir Owai, payang kakek lapuk terbujuk ombak Dipesisir pasir berbutir menghitung umur Diseret air lalu sia-Sia berhenti mengalir Digemakan genta kecil dari jauh, keluhBinuang pada pedati; Beberapa tikungan lagi sampai ketujuan? Letih oleh api revolusi, singgah di dangau petang hariMungkin Tan Malaka, kini juga diriku,berulangkali Melamunkan jalan pintas ke kampung halamanOwai, pulanglah, buyung, pulanglah. Burung pipit SunyiBunuh diri, jemu meniru nyanyi bansi si mati Di surau,adakah tanjung tangismu lagi untuk ibu
Puisi Jalan Pulang | Warih Wisatsana
0 komentar Tuesday, May 13, 2014 Diposting oleh kumpulankaryapuisiJalan PulangWarih WisatsanaKarena lautsungai lupaKasihku, cahaya redup sesaatdi sela jariku gemetarBergoyang riak inisetiap kali terasa getar di langit dinginMembuka peta tak terbacaSilau menyaksikan pulau musnahdi bawah serpihan bintang.Bintang apa yang tadi lenyappohon apa yang tadi menyala.suara apa berlari di udara beku?Kukira kau yang selalu diamberlari sepanjang malamSeperti batu menangismeluncur di sungaitak tahu jalan pulang1987
Friday, May 2, 2014
Puisi Mata Air | Warih Wisatsana
0 komentar Friday, May 02, 2014 Diposting oleh kumpulankaryapuisiMata AirWarih WisatsanaKau impikan akumenjadi patung letihTidur dengan mata layu terbukadan mulut pucat mengangaBertahun mencari sumber air suciKendi ini berlumut di bahuku. Kendi itu mimpi;Aku gali tujuh perigi tujuh sumur keramattapi air tak juga memancarAir itu cermin diri -- Ibu sejati kata-kataDewi padi yang diam-diam menyamarmengalir, mengalirlah genangi sekujur diriku!Sebab inginku lahir kembalidari rahim hening iniserupa dulu di tanganku burung bercumbuikan-ikan jinak girang meloncatDi ujung lembut lidahkukata merujuk makna. Sederhanabagai duri membelai nyeriterang mengusap gelapTapi berenang menyeberangi sungai tuaarus deras mana lagi yang menyeretkuAyahku pohon rimbun berlumuttak pernah peduli si piatu ini sesatTak pernah mengajari bagaimanaakar melilit menyelamatkan diridari banjir besardari puting beliung segala bencanaTercerabut aku, tercerabut hanyut!Lalu seperti nujuman lontar lapuk itu;Hanya seekor ular hijauatau setetes cahayakelak jadi isyarat di rekah tanahDi kaki candi tempat tangga batu itulurus melaju membawaku ke kilau awanMembawamu ke sumber asalke benih suci -- jalan air mengaliryang bertahun kau impikan.Tapi kendi tua itu retaksaat kumasuki sunyi mimpimuLalu dengan hati-hatiaku gali perigi dalam diriAgar kisah ini ditulis dan dibaca lagiagar dewata tahu bahwa mataku sesatdan lenyap di langit senyap.1989 - 1991
Puisi Ikan Terbang tak Berkawan | Warih Wisatsana
0 komentar Friday, May 02, 2014 Diposting oleh kumpulankaryapuisiIkan Terbang tak BerkawanWarih WisatsanaNelayan tua nyenyakkah tidurmu di ombakseharian angankan diri biduk lapukletih jadi ikan terbang tak berkawanDayung berulang patah, kemudi hilang arahah, jala koyakmu mana bisa menjaringkilau bintang yang paling terangTengadah ke awan perlahansaksikan awan hitam penuh riakrumput dan bunga berubah warnabayang-bayang berjatuhan dalam gelapSebab hidup cuma sekecup buihsaksikanlah ikan-ikan pengeluhjiwa-jiwa lunglai putus asaberkali benturkan tubuhke lengang runcing karangSebab hidup cuma sekecup buihhanya sekejap lenyapucapkan salam pamitmuyang paling riang, ucapkan lembut;Selamat tinggal topi jerami penuh mimpiselamat tinggal hiu jinak bermata biru!Tak peduli hanyut jadi biduk lapukjadi ikan terbang tak berkawanUcapkan salam pamitmu paling riang;Selamat tinggal dunia riuh penuh keluhselamat tinggal patung keramat berlumut!Terbang melayang melintasi laut lainombak dan topan lainmelayang sendiri menyusuri senyaptak peduli meluncur lenyap dalam gelapTapi, nyenyakkah tidurmu di ombakhanyut seumur-umur sendiri?Ah, sialan, kenapa tak kau angankandirimu sesekali jadi tuhanmenari riang di awan tak berkawan.1990-1992
Sunday, April 27, 2014
Puisi Efitap Penyair Terlupakan | Warih Wisatsana
0 komentar Sunday, April 27, 2014 Diposting oleh kumpulankaryapuisiEfitap Penyair Terlupakan-- Gimin Artekjursi --Warih WisatsanaTak terkubur, duniamu tak terkuburDi bulan Agustus yang bukan milikmukereta-kereta matimengiring harike makam tuamengantar penyair mengusap nisandalam isak sajak yang paling rahasiaAda ibu muda duduk tertunduktanpa suaraada bayi membiru di pangkuanmengulum ibu jari merah unguRoda kereta berderak di kelok setapakBukan di manabukan ke manaTapi di sini nun di lembah pujian inipadang pun lepas terbukabegitu luas dibacakubur nganga begitu senyap ditatap!Tangan haus menulis, tangan pipihmuyang tak mau henti ngembarakini gemetar melintasiMalam piatubagi semua ibuyang terseduBegitu pucatrumput tercerabutmembelah sisa dunia yang kau pijakNamun kertas putih hampapena sebatangkaratak akan percuma menagih nyawa kataTak terkubur penyair, namamu tak terkubur.2000
Puisi Notre Dame | Warih Wisatsana
0 komentar Sunday, April 27, 2014 Diposting oleh kumpulankaryapuisiNotre DameKepada : Ali SugihardjantoWarih Wisatsana..Kata siapa daging harusmenggenggam duri di bumiagar paham lagu sorgawi..Seperti sejengkal sesal dari ajalgerbang lengang Notre Damekubuka perlahan dengan hening doaCuma debu, bisikkuYaa, melulu debuTapi itu bukan daging waktubukan daging dan darah waktuSeperti orang-orangseperti harapan si miskindalam remang kuulurkandengan bimbang lilin redup10 francsAku raba segala yang duluingin kuraba. Aku sentuhsemua yang dulu tak bisa kusentuh:Oh, gigilnya bulu-bulu salju bulan JanuariSia-sianya mantel kumal sepanjang musim!Sepanjang musim tersalib aku di bangku kayujadi si tua rabun, senasib malaikat ingkaryang terusir. Mengharap secercahcahaya keramat memulihkan penglihatannya.Cahaya langit menyilaukan yang terpantuldari kubah kaca aneka warnabiru, hijau, bahkan mungkin tak berwarnalurus menembus membasuh keruh mataMenembus samar ingatan suatu senja — saat akumerasa menyaksikan anak tuhan terpilihtengadah pasrah; remang jadi bayangjadi pahatan bisu dinding.Ah, ngilunya, luka berkarat di lambungdi telapak kaki, di kedua belah tangan!Pilunya aku, pilunya, semua kini melulu debuSegalanya melaju cuma jadi remah waktu!Tapi di katedral ini, raja-raja agung diurapiorang-orang besar diberkati. Kusentuh kuciumharum wangi jubah merekaUjung lidahku terasa pecah, terasa getirtercecap pahitnya takdirtercecap amis asin tetes liur si miskin!Oh, perjamuan terakhir–ratapanyang dikekalkan sesal di tembok berlumutYang dikekalkan di langitcucuran darah di kening yang berdurimahkota sunyi sorgamuDarah yang deras mengalirmenggenangi roti suci tak beragiremahan nyeriBercampur baur di anggurtetesan pilu tangiskuSuara parau lonceng tua sebelum ajalmemanggil kembali keluh sesal si penyangkalBerdentang, berdentang lagi tiga kalimenggenapi amar ampunan sepagi ini;Sakitnya lembut daging menggenggam duriNyerinya kini sayat hari digarami asin mimpi!Maka di kamar kaca pengakuan dosaIngin kulunasi hutang piutang kehidupanBersamamu mati berkali-kalibangkit berkali-kali.Rue Normandie Niemen, Orly. 1998-1999
Wednesday, April 23, 2014
Puisi Semenit Lalu Apel Lepas Perlahan dari Tangan | Warih Wisatsana
0 komentar Wednesday, April 23, 2014 Diposting oleh kumpulankaryapuisiSemenit Lalu Apel Lepas Perlahan dari Tangankepada: ArcanaWarih WisatsanaGampang terkelupas oleh sengat panaskulit tubuh ini tipismestinya bukan batas selapis napasSemenit lalu, ya semenit lalu, seperti biasasegelas bir tumpah tak sengaja di atas mejaSetengah mabuk seolah tengah khusuk berdoasepasang kekasih saling berbagi bisikDi dinding remang menulis pesan kenanganseperti grafiti penuh artiseakan ingin menjadi kaligrafi penuh janjibukan tubuh, melainkan ruh yang ingin kusentuhYa, semenit lalu, semua bahagia bertegur sapabertukar nama dan alamatDengan mata uang dilontarkan bergiliran ke udarasebagian tertawa menghitung peruntunganYang lain pura-pura percaya nujuman masa depan.Di lorong lengang seorang perempuan sawo matangmencuri ciuman di detik indah yang tak terbayangDi pantai ikan-ikan riang mencuri cahayadari kerlip bintang-bintangDua lelaki tua dari dua benua tak henti berceritamengenang nasib baik mereka di perang dunia kedua.Di tengah musik yang gaduh, menahan keluhsemut-semut beriringan mencari jalan pulangdi sela dupa yang letih menyala.Seperti biasa, ya seperti biasa, sopir taksi tiduranjing pun lelap tidur, berbagi dengkurTelevisi tak mati mati menayangkan gambar kaburanak-anak yang mengerang, yang kepalanya remukdi jalan setapak sebelum yerusalem sebelum bait suci.Di sini di detik yang sama, ibu muda jelitapitanya warna warni mimpinya warna warnibergegas menyeberangi malamlepas bergulingan disentuh embun jalananmengering seketika jadi arang di seberang.Semenit lalu, ya semenit lalu, tak adayang ingin lenyap menjadi asaptak ada yang ingin hilang jadi puing bayang.Lalu Tuhan; seperti biasa, ya seperti biasa.2002 - 2003
Tuesday, April 22, 2014
Puisi Dalam Siul Anak-anak | Warih Wisatsana
0 komentar Tuesday, April 22, 2014 Diposting oleh kumpulankaryapuisiDalam Siul Anak-anakWarih WisatsanaKelak bila akhir kalimatkumembentuk sungaiNapas angin tercekikbunga terisakSeekor kupu menggelepar liar!Yang manakah gerimisyang manakah tangis?Seekor kupu menggelepar liardi taman nasib masa kanakkuMenyerap mimpi buruktak percaya langit terbuka.Dan seseorang menari dalam lamunanMemanggil nama kecilkudi tamanTempat di mana duluTangga sorga sesaat kubayangkanberayun di awan,Dan sebuah gubuk mungilperlahan menjelma di langitDalam siul anak-anakKelak bila nasib baik menjengukkuDatang menyamar serupa mawarmembisikkan jalan pulangdan alamat ibukuMaka maut bersiul dalam gelapdalam siul anak-anakku1987
Sunday, April 20, 2014
Puisi Kartu Pos Sebuah Kota | Warih Wisatsana
0 komentar Sunday, April 20, 2014 Diposting oleh kumpulankaryapuisiKartu Pos Sebuah Kotabagi: Jean MoulinWarih WisatsanaSebuah kota, bayangkan, penuh payung hitamMurung dan muramSetiap nama jalan kuhapal, tapi selalu sepatukusesat di situ; selalu kapel tua di tikunganbangku kayu bisu, juga apel membusuk perlahandi rumputan di tepi tamanSeolah dinujum mimpi, terjadi berulangkali di siniBeribu mil gigil di belahan bumi yang lainCuaca dingin yang sungguh lainBerulangkali, seorang ibu bersyal birudengan anjing kelabu, bertanya padakuSeperti pengungsi diinterogasi, tak boleh pergi;Siapa namamu, dari negeri mana asalmu?Seketika ingin kuputar undur jarum jamMeninggalkan arang, puing malam,kemah pesta kaum hitam di pinggir hutan.Juga raung seram serigala yang geramMenemukan bayang bulan separuh lebamberdarah, tenggelam di lubuk yang dalamAtau ingkar janji; menari liar hingga dinibersama seorang gadis gipsiDi ruang bawah tanah, disaksikan sepasangmalaikat bisu, yang hangus tertembus peluruTerpahat lumut, lekat sepanjang dindingKekal jadi tawanan ingatan, jadi teka teki waktuTapi kota, bukankah mirip perangai cuaca, tak mau tahuSiapa yang sungguh bahagia, siapa yang nyata sengsara?Tak mau peduli; beribu mil aku gigil, tersekap di siniBertahan melawan amuk topan, melawan ketakutanjadi pengungsi tak bisa pergi, tak punya jalan kembalibahkan hasrat untuk menyelamatkan diri.Lalu di stasiun, salju bergegas menghapus jejakkumenghapus sebagian ingatankuTak ada tiket di lokethanya jerit peluithanya rasa sakitSisa bayang kenangan; sisa derit seperangkat alatpencabut kuku, penyayat kulit, hingga rusuk remukserupa serbukDi sebuah barak yang sesak, yang tak berjarakdari setumpuk boneka kikuk, mainan riang kanak-kanakDari tungku siksa masa lalu, saksi segala yang dulu jadi abuBahkan saat itu kata kata hangus, terhapus panas napasJuga firman, asma tuhan, doa rahasiayang disamarkan luka di telapak tanganmusnah kini tinggal rangka, tinggal sayup gemaKerling bening yang jenaka, bocah nakal yang jenakaCuma tersisa di akhir cerita pelipur lara; di manatiga penyihir terusir, tiga burung gagak terkutuk sirnaTiga peri kecil berambut ikal, bersayap terang bintangterbang riang mengelilingi mahkota nasib kita.Nyanyi mereka seolah titah tak terbantah; sekali sentuhjadilah:Sunyi pun sekejap menjelma roti, getir di bibir jadi anggurwangiTapi di luar dongeng, di kamp yang mencekammata bapak terbelalak mata ibu pilu, dihitung dan digiringMeniru langkah lelah prajurit yang kalah, pesakit yang pasrahke sebuah subuh yang ingin teduhKe suatu tempat, di mana kini aku sesat, tak tercatatTak beralamat, percuma menunggu isyarat selamatSia-sia pasrah tengadah ke langitBintang kudus hanya milik orang majusiBintang naasku sesaat lewatterisak di ufuk, ingin sekali beralih bentukKekal jadi tawanan ingatan, selalu jadi teka teki waktu.1998 - 1999
Subscribe to:
Posts (Atom)

