GARUDA
Saut Poltak Tambunan
Dalam temaram garudaku nelangsa
terjelapak jatuh di belakang gudang jemuran padi
lunglai lehernya terkulai
digelantung beban lambang-lambang besar
sementara gambar lainnya berebut posisi
di kepala
di mata
di dada
di paruh
di cakar
Dalam temaram gagahnya sirna
Perisai lama bergambar lima
telingsut lenyap entah di belahan dada mana
Tujuhbelas delapan empatlima
bulunya jadi umbul-umbul dan bendera
berkibar berkobar berwarna-warna
Dalam temaram garuda meradang tiba-tiba
mencakar mata sendiri
mematuk cakar sendiri
merobek dada sendiri
Dalam temaram garuda berteriak:
tak akan cucakrowo menggusur aku!
lalu diam
lalu diam
lalu &%$@%$#&% ...!?
November 2009
Showing posts with label Saut Poltak Tambunan. Show all posts
Showing posts with label Saut Poltak Tambunan. Show all posts
Wednesday, April 13, 2011
Puisi Garuda | Puisi Bertema Garuda
0 komentar Wednesday, April 13, 2011 Diposting oleh kumpulankaryapuisiMasih, Meski Bukan yang Dulu
0 komentar Wednesday, April 13, 2011 Diposting oleh kumpulankaryapuisiMasih, Meski Bukan yang Dulu
Saut Poltak Tambunan
Risaukan apa lagi, kekasihku.
Masih ada taman ini menjulurkan rindangnya untuk kita berteduh.
Masih ada rumpun semak untuk kita sembunyi bercumbu.
Masih ada kupu-kupu putih mungil melintas di atas kepala kita.
Masih, meski semua itu bukan yang dulu.
Risaukan apa lagi, kekasihku.
Masih ada langkah yang bisa kita ayun bersama, meski sedikit goyah terseret.
Masih ada helai rambut yang harus kusibak di keningmu
untuk dapat membisikkan suara dari hatiku, meski mulai memutih.
Pendengaran kita mungkin mulai berkurang,
tetapi kita selalu sudah mendengar sebelum kita mulai mengatakannya.
Risaukan apa lagi, kekasihku, aku selalu ada,
meski semakin meski..
spt, mei 2009
Biografi Saut Poltak Tambunan
0 komentar Wednesday, April 13, 2011 Diposting oleh kumpulankaryapuisiBiografi Saut Poltak Tambunan
Saut Poltak Tambunan, lahir di Balige, kota kecil pinggir Danau Toba, menikah dengan gadis Kawanua - Menado (Lenny Runturambi). Mungkin tidak laku untuk gadis Batak karena tidak bisa main gitar dan tidak suka catur. Punya anak 3 (1-2 perempuan, alumni di PR London School dan alumni FH Unpad, yang ke-3 laki-laki masih tahun I di FIKOM UNPAD).
Saut Poltak Tambunan, adalah penulis cerita pendek, novel, skenario, puisi, kolom, artikel. Mantan PNS, tahun 1981 mendirikan Yayasan Pengarang Indonesia AKSARA di Jakarta dan menjabat sebagai Ketua I dan sekaligus menjadi Ketua Yayasan Pengarang AKSARA hingga sekarang. (Oktober 2009 mendirikan Komunitas Kedailalang – Kedai Sastra Ide Kalimalang bersama Kurnia Effendi (KEF) dan teman-teman. Aktif menyelenggarakan workshop penulisan cerpen/novel dengan bukunya ’Kiat Sukses Menulis Novel’.
Saut menyelesaikan/menerbitkan puluhan novel, ratusan cerita pendek/artikel dan skenario film/sinetron. Beberapa novelnya menjadi bestseller pada dekade tahun 80-an, diangkat ke layar lebar dan belakangan menjadi sinetron. Antara lain, Hatiku Bukan Pualam (layar lebar), Jangan Ada Dusta (sinetron), Dia Ingin Anaknya Mati (Sinetron Mini Seri), Harga Diri (layar lebar) , Yang Perkasa (layar lebar), Jalur Bali (layar lebar). Beberapa novel masih dalam penulisan skenario untuk sinetron, yaitu Harga Diri, Kembalikan Anakku, Lia Nathalia, Permata Hati. Termasuk 3 kumpulan cerpen Rinai Cinta Seorang Sahabat (1985) Lanteung, (2004), Jangan Pergi, Jonggi (2005). Kumpulan cerpen ke-4 ’Tortor Orang Batak’ sedang dalam proses.
Sambil menjadi PNS ketika di Jakarta, sempat nyambi menjadi wartawan, editor dan penulis kolom ‘perilaku konsumen’ pada majalah Kartini termasuk ’penjaga gawang’ Departemen Buku Kartini. Juga sempat menjadi dosen pada Akademi Sekretaris Managemen Indonesia (ASMI) dan Akademi Maritim Indonesia (AMI) di Jakarta. Tahun 2008 menjadi co-writer dan editor untuk buku marketing managemen berjudul Launching.
Thursday, January 13, 2011
Sahabat di Badai: Saut Poltak Tambunan
0 komentar Thursday, January 13, 2011 Diposting oleh kumpulankaryapuisiSahabat di Badai:
Saut Poltak Tambunan
untuk sahabat dari gang Anyer
kerling lampu kedai setepian
danau Toba kian bergambar siluet dermaga
ah, sisa sedikit jarak
yang harus kita kayuh galau
mengapa badai masih saja menggeluncang
dalam hujan sesorean akhirnya kau ada di depanku
mabuk kita dalam rindu nostalgia
hanya diam sesekali tersedak
senduaku baca binar matamu
mozaik peristiwa dalam tawa
getarnya di ruang-ruang kepalaku:
andai bisa, sesakmu labuhkan
padaku Sahabatku,
Tuhan sungguh menjagamu.
SPT, Jkt, 14 Jan 2010
Lalat di Kopiku: Untuk KJ
0 komentar Thursday, January 13, 2011 Diposting oleh kumpulankaryapuisiLalat di Kopiku:
Untuk KJ
Saut Poltak Tambunan
Sepasang pahanya langsing
berdesah menyeduh gula di kopi soreku.
Nikmat mendorong mata bolanya makin keluar.
Kujentik dengan jariku,
balas digigit dengan kemarahan penuh. Kuminta pergi,
berbalik melotot
sambil menutup bokong
dengan sayap melorot basah
(aku pikir ini pasti betina):
"Berdiri kita sama tinggi
duduk sama rendah!"astaga, aku ingat
debat kusir di pansus." Aku marah,
kutenggak saja hingga ampasnya.(dan pahanya yang berbulu
menggelinjang di ujung lidahku)
Puisi Sarimin | Saut Poltak Tambunan
0 komentar Thursday, January 13, 2011 Diposting oleh kumpulankaryapuisiSarimin
Saut Poltak Tambunan
Sarimin tidak habis pikir
mengapa pecut masih saja mengoyak
tengkuknya meski kesetiaan
telah ia lakoni sepanjang peradaban, mengapa nasibnya
harus tergantung
pada iseng belaka orang di kota.Ia pun pergi ke pasar
rasa lapar telah lama digelar
menjadi luka menganga
dan kejujuran - kesetiaan
hanyalah keterpaksaan. Sarimin berteriak tawarkan
jantungnya.
Jajakan hatinya.
Tetapi pasar pecah berubah rusuh.
Sarimin terhimpit terinjak
oleh berbagai unjuk rasa.
Entah rasa apa,
sebab poster dan spanduk yang diarak
sudah kabur oleh darah ludah
serta serapah nista
dari lidah yang bercabang-beranting.
Aroma dendam dan dengki
dikelangitkan menjadi satu. Sarimin terseret
makin jauh masuk kota.
Ia menyaksikan orang-orang heboh
memburu tikus-tikus buron ke belantara hukum.
Tunas-tunas muda gagah berani
berteriak sungsang melintang
di perempatan hukum sambil
ramai-ramai kangkangi rambu. Semakin bingung, Sarimin
nyasar ke plaza. Di sini orang masih saja
ingin membeli kendati tak ada lagi
yang mau menjual. Cobalah bersabar, kata Sarimin
berdamai dengan diri sendiri,
masih ada sisa doa yang belum pecah
terinjak di pasar.
Tetapi siapa percaya doa bukan serapah?
Siapa percaya kebajikan
bukan akal bulus belaka? Sarimin nelangsa.
Sepotong mimpinya telah menjadi santapan
lezat para pakar di televisi.
Keadilan tinggal sebatas bahan
seminar orang-orang gardu muka
yang semalaman tidak tidur
merancang surat kaleng.
Cuaca pada kaca buram berembun
hanya menyuguhkan wajah
tak bermuka kendati masih berdasi. Sarimin
minggat ke kuburan.
Ingin muntah di atas kubur tuan lama
yang kini diziarahi bagai pahlawan sejati
meski semasa hidup
belakangan tak lagi punya nyali bertemu Sarimin.
Sebab nafas dan kentutnya merusak ozon.
Jazadnya pun meracuni tanah hingga cacing dan belatung pun
tak sudi menyentuhnya.Sarimin menangis. Ia pergi ke pergi.
Bandar Lampung, 1996
Wednesday, January 12, 2011
Puisi Kecewa | Terlanjur Aku Mengagumimu
0 komentar Wednesday, January 12, 2011 Diposting oleh kumpulankaryapuisiTerlanjur Aku Mengagumimu
Saut Poltak Tambunan
Terlanjur siang saat aku sadar kau bukan lautku,
sia-sia saja aku menyelam
sebab padamu tidak kutemukan kedalaman. Engkau bukan sungai,
sia-sia aku arungi engkau
sebab padamu tidak jua kutemukan arus dan jeram.
Mungkin engkau telaga,
tetapi tak jua aku bisa bercermin
sebab padamu tidak kutemukan kebeningan. Engkau cuma
genangan dangkal berlumpur.
Padamu hanya ada buih dan riak
yang gelisah manakala badai tiba.Aku kecewa.
SPT, Mei 2009
Subscribe to:
Posts (Atom)
