SAMPAI BATAS SENJA
Ilham Wahyudi
Kekasihku ingin aku mengendongnya sampai batas senja
sehingga ia dapat melihat matahari berendam di perut bumi
burungburung pulang dengan perut kenyang
bulan cemas sebab awan sedang bersedih
mendengar rintih katak yang kesepian di pinggir kolam
dan mana tahu gerimis kali ini sudikiranya turun membasahi
pipi merahnya seperti purnama
kekasihku juga memintaku menyayikan lagulagu rindu
agar suasana hatinya yang kacau berangsur normal
sejak pertemuannya tempo hari dengan seekor ular
semuanya tibatiba jadi berubah
seolah ular itu adalah isyarat tentang usianya
tapi kekasihku, ia tidak percaya pada katakataku
bahwa semua itu tak ada hubungannya samasekali
pada usia yang telah tuhan tetapkan batas ujungnya
kekasihku semakin erat memelukku, sangat erat sehingga
aku sulit sekali bernafas dan berbicara kalau aku sepenuhnya
setia bersumpah takkan meninggalkannya, walau sedetik
tapi kekasihku makin kuat memelukku dengan kedua lengannya yang beku
lalu kurasakan pundakku hangat menampung gerimis yang pelanpelan turun
aku mencoba menoleh ke pundakku; apakah ia menyaksikan gerimis ini turun?
sebab sudah sejak lama ia ingin sekali menyaksikan gerimis turun di batas senja
tapi apa yang kusaksikan bukanlah wajah bahagianya
melainkan mata kekasihku terpejam lekat
di batas senja yang pekat
dan gerimis, benarbenar gerimis
Medan. Februari 2009
Showing posts with label Ilham Wahyudi. Show all posts
Showing posts with label Ilham Wahyudi. Show all posts
Thursday, April 14, 2011
Puisi Sampai Batas Senja | Ilham Wahyudi
0 komentar Thursday, April 14, 2011 Diposting oleh kumpulankaryapuisiPuisi Cinta Kian Membentang
0 komentar Thursday, April 14, 2011 Diposting oleh kumpulankaryapuisiCINTA KIAN MEMBENTANG
Puisi Ilham Wahyudi
– untuk kawan kawan di pabrik kopi
mereka tak menemukanku lagi di sana:
kebahagian adalah senyuman
cinta yang menyembur dari mata
menyelinap di katakata kami;
kini dulu
aku ini batu kata karung goni
sahabat luka kata kopi
tawa canda kami memekik
pada mesinmesin penimbang berat
dan diamdiam telah kami curi kebahagian
dari celah celah butir keringat
(satu awan gelap memandang sinis
teh manis kami tumpah – kadang juga kopi
baju kami basah
akh, lupakan saja, kita gulung lagi tawa
hahahaha)
roda waktu mengejar nafas
senyum anak kami; ingin disuap
lonceng berdentang:
sayur dari dagingku; ikan dari darahku
makanlah, nak
rinduku makin gila:
pun tak kusangka
acap kali aku tergoda
menjual lambungku
kau pisau tumpul tapi tajam
ada logam tikamlah
sampailah pada ujung perjumpaan:
seluruhnya menjadi kenang
kunangkunang malam yang terang;
cintaku kian membentang – samudera
Medan. Februari 2009
Puisi Gadis Lembah Seberang | Ilham Wahyudi
0 komentar Thursday, April 14, 2011 Diposting oleh kumpulankaryapuisiGADIS LEMBAH SEBERANG
Ilham Wahyudi
kalau langit mengijinkan
bulan purnama ini aku akan menyuntingmu
gadisku
gadis terang dari lembah seberang
pikat sukma jiwaku melayang
katakan pada seluruh tetua di sana
tak usah menyembelih binatang ternak
aku telah memotong sembilanpuluhsembilan
kerbau putih
tigapuluhtiga jenis rempah-rempah dari tanahku
sembilan daun sirih macam rasa
serta tiga kilo emas putih
sebagai maharku
gadisku,
kelak masaklah apa yang kita tanam dari kebun-kebun pengharapan
suapi si bungsu dengan senyum yang kau pamerkan
saat pandanganku terbentur matamu
pegang juga pundakku sebab aku akan menggosok rasa letih
yang menempel di kaki jenjangmu dengan seluruh keringat
yang kutampung dari sekujur tubuhku
mengendongmu ke ranjang yang dipenuhi bunga-bunga mawar
gadisku,
gadis terang dari lembah seberang
bersiap-siaplah aku akan segera datang
mencurimu dari kedua orang tuamu
orang-orang yang memperdulikanmu
tanah yang selalu merindukanmu – sepertiku –
selalu
Medan. Maret 2009
Puisi Pemabuk | Ilham Wahyudi
0 komentar Thursday, April 14, 2011 Diposting oleh kumpulankaryapuisiPEMABUK
Ilham Wahyudi
Oia, akukan pemabuk
Hantu malam dari lubang jahannam
Anjing liar dari kebunkebun pembantaian
Tolong tuangkan lagi luka itu, kawan!
Gelasku sudah kosong, lagi pula lambungku masih lapang
Memendamnya.
Cengeng!
Jangan kau habiskan air mata itu, tolol!
Besokkan film horornya masih diputar
Apa?
Kau bilang film komedi yang membuat kau menagis?
Hahahaha…puji tuhan!
Lantas mengapa kau menagis?
Kau menangisi mereka – orangorang suci itu?
Hahahaha…ternyata kita sama rupanya, kawan
Hantu malam dari lubang jahannam.
Taik kucing!
Aku melihat taik mata di bulan
Kau mengajakku begadang?
Dendang lagu dendang rindu
Akh…pilu!
Medan. Maret 2009
Subscribe to:
Posts (Atom)
