Demikian Camus BerkataSoni Farid Maulanapemberontakan itu, demikianAlbert Camus berkata, memberi nilaipada hidup1yang kau punyakubelai-belai mesra,nyatanya hidup juga.hihihi, mari kita masukiwilayah malamdengan seluruh api pemberontakanyang menyala di dada.o, airmata yang bergulir di cekung rasakatakan padaku – masihkah kita bermukimdi negeri mimpi? Siang tadi kabar dukasampai padaku, Tasik yang rusuhdihanguskan api. Batu mengucapbatu. Darah melayah di gigir hari,di gigir waktu apa yang rubuhsehabis api pemberontakankita kobarkan hingga ke langit jauh?hanya sunyi bertilam sunyidi luar jendela. Lalu daun gugurdan risik hujan kembalibicara19961 Sepatah kata bersayap Albert Camus dalam buku Mythe de Sisyphe
Showing posts with label Soni Farid Maulana. Show all posts
Showing posts with label Soni Farid Maulana. Show all posts
Tuesday, February 11, 2014
Puisi Demikian Camus Berkata | Soni Farid Maulana
0 komentar Tuesday, February 11, 2014 Diposting oleh kumpulankaryapuisiMonday, February 10, 2014
Puisi Anggur dan Daging Bakar | Soni Farid Maulana
0 komentar Monday, February 10, 2014 Diposting oleh kumpulankaryapuisiAnggur dan Daging Bakaruntuk Ian CampbellSoni Farid Maulanasampai di pinggir jalandi bawah rintik hujan, dalam derai anginsore hari; sekar kenangan ligar lagidalam dirinya yang sunyi;di Rotterdamdalam hujan saljuyang kali pertama ia lihatdengan penuh rasa takjub“bisa menghangatkan badan,”katanya. Tapi ia tak menjaminbisa meloloskan nyawamu,dari sergapan maut musim dinginyang melata bagai ular mencari korban2003
Saturday, February 8, 2014
Puisi Tentang Lanskap | Soni Farid Maulana
0 komentar Saturday, February 08, 2014 Diposting oleh kumpulankaryapuisiFriday, February 7, 2014
Puisi Tentang Daun | Soni Farid Maulana
0 komentar Friday, February 07, 2014 Diposting oleh kumpulankaryapuisiDaunSoni Farid Maulanasiapa yang tak hanyutoleh guguran daun: ketika anginmempermainkannya di udara terbukaketika lembar demi lembar cahaya mataharimenyentuh miring dengan amat lembutnyasiapa yang tak hanyut oleh guguran daunketika maut begitu perkasamencabut usia hingga akarnya, ketika mataharimenarik tirai senja, ketika keheninganmenyungkup batu-batu di dada. Siapayang tak hanyut oleh guguran daun: ketikalobang kuburan ditutup perlahan, ketikadoa-doa dipanjatkan dengan suara tersekatketika kutahu pasti kau tak di sampingku1980
Thursday, January 30, 2014
Puisi Selepas Kata | Soni Farid Maulana
0 komentar Thursday, January 30, 2014 Diposting oleh kumpulankaryapuisiSelepas Katauntuk Kautsar M. AttarSoni Farid Maulanaperempuan itu terbaring di ruang bersalinbayang-bayang sang ajal berkelebat dalambiji matanya; memperkenalkan dirikupada warna darah dan tanah. Dan kau yangdilahirkan sore itu, tangismu keras,air matamu adalah arus sungai yang derasmenyeret kesadaranku ke palung deritaseorang ibu, yang sisa amis darahpersalinannya; masih melekat di tubuhku,yang kini rapuh dikikis waktu, digali detikjam yang terus melaju ke dunia tak dikenal,di luar hiruk-pikuk kehidupan kota besar;ada yang menjauh dari surau dari kilautelaga kautsar yang Dia berikan2003
Monday, January 20, 2014
Biografi Soni Farid Maulana
1 komentar Monday, January 20, 2014 Diposting oleh kumpulankaryapuisiBiografi Soni Farid MaulanaSoni Farid Maulana, lahir di Tasikmalaya, Jawa Barat, 19 Februari 1962. SD, SMP, SMA di tempuh di kota kelahiran. Tahun 1985 menyelesaikan kuliah di Bandung di jurusan Teater, Akademi Seni Tari Indonesia (ASTI), sekarang Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Bandung. Bekerja sebagai jurnalis di HU Pikiran Rakyat Bandung. Aktif menulis sejak tahun 1976. Antologi puisinya Variasi Parijs van Java (Kiblat Buku Utama, 2004), Secangkir Teh (Grasindo, 2005), Sehampar Kabut (Ultimus, 2006), Angsana (Ultimus, 2007), Opera Malam (Kiblat Buku Utama, 2008), Pemetik Bintang (kiblat Buku Utama, 2008). Juga menulis puisi berbahasa sunda, terkumpul dalam Kalakay Mega (Geger Sunten, 2007) dan telah memasuki cetakan ke 3. kumpulan cerpennya Orang Malam (Q-Press, 2005). Kumpulan esai Menulis Puisi Satu Sisi (Pustaka Latifah, 2004), Selintas Pintas Puisi Indonesia (Grafindo, Jilid 1 2004, Jilid 2 2007).
Puisi Ciwulan | Soni Farid Maulana
0 komentar Monday, January 20, 2014 Diposting oleh kumpulankaryapuisiSunday, January 19, 2014
Puisi Tembang | Soni Farid Maulana
0 komentar Sunday, January 19, 2014 Diposting oleh kumpulankaryapuisiPuisi Semacam Surat untuk Sutardji Calzoum Bachri | Soni Farid Maulana
0 komentar Sunday, January 19, 2014 Diposting oleh kumpulankaryapuisiSemacam SuratSoni Farid Maulanajika itu yang kau maksud: memangaku punya hubungan baik dengan ikandi kolam; -- juga dengan warna unguteratai dalam lukisan Monet.tapi kucing yang mengeongdalam aortamu: -- rindu daging paling mawarrindu susu paling zaitun,yang harum lezatnya semerbak sudahdari arah al-kautsar. Tapi, seberapa sungguhkegelapan bisa dihalau: -- jika gerhanamembayang di hati? Seberapa alif mekardi alir darah; -- jika setiap tasbih diucap,yang berdebur di otak hanya ombak syahwat?dji, tangki airmata selalu bedah di situ2002
Puisi Tentang Ular | Soni Farid Maulana
0 komentar Sunday, January 19, 2014 Diposting oleh kumpulankaryapuisiTentang UlarSoni Farid Maulanadi kamar ini, di antara bayang-bayang kelambuaku cari wangi tubuhmu. Desis ular dari bayang-bayangmasa silam – kembali menggema dalam ingatanku,lalu firmanNya yang menggetarkan itu.1994
Saturday, January 18, 2014
Puisi Suara Terompet Akhir Tahun | Soni Farid Maulana
0 komentar Saturday, January 18, 2014 Diposting oleh kumpulankaryapuisiSuara Terompet Akhir TahunSoni Farid Maulanadi ujung malam sedingines dalam kulkas;apa yang kau harapdari suarafajar yang menyingsingtanpa bunyi kayu dilahap api,tanpa tubuh yang hangusseperti sisa bakaran kardus?kita berharapsemisal tak ada kurapdi daging waktuyang esok hari kita kunyahdalam pesta kehidupan yang renyah?tapi apa artinya berharapdan tidak berharap,bila langit muram terus membayangseperti pengalaman yang kelam:o, bunyi kayu yang hangusdan tulang kepala yang meletusdalam kobaran api di bulan Meiyang ngeri di ini negeri?di ujung malam sedingines dalam kulkas;apa yang kau harapdari ujung bunyi terompet1998
Puisi Narasi di Bawah Hujan | Soni Farid Maulana
0 komentar Saturday, January 18, 2014 Diposting oleh kumpulankaryapuisiNarasi di Bawah HujanSoni Farid Maulanahujan, curahkan berkahmu yang hijaupada lembah hatiku.puaskan dahaga tumbuhan,hingga jiwaku terasa segar membajak kehidupan.di pinggir jendela aku ingat benar tahun laluaku masih kanak, bersenda gurau, bernyanyi riang,memutar-mutar payung hitam di bawah curahmu;yang berkilauan bagai perak disentuh matahari.o, hujan. Puaskan dahaga jiwakuagar hidupku menyeruak bagai tumbuhanmenjemput Cahaya Maha Cahaya1984-1989
Puisi Catatan dalam Hujan | Soni Farid Maulana
0 komentar Saturday, January 18, 2014 Diposting oleh kumpulankaryapuisiCatatan dalam HujanSoni Farid Maulanaaku serahkan seluruh jiwaku padaMukarena menolak adaMu berdasarkan pikiranadalah kesia-siaan belaka.keimanan adalah kerinduan yang bengalyang berulang jatuh memanjat langit rohanihingga malam berlalu dalam tahmid dan takbirhingga kokok ayam mengerek cahaya fajardi kalbuku. Hujan yang turun menghapusjejak kemarau di dahan-dahan pohonansungguh indah warnanya. Irama suaranyayang menggetarkan ini sukma; adalahsalawat bagi segala jiwa yang berlayarke muara Cahaya Maha Cahayasemata Cahaya Maha Cahaya1991
Subscribe to:
Posts (Atom)

